SUDAH PINDAH RUMAH -> ADA KOKO

Potret Riset Perguruan Tinggi Kita

Senin, 22 Maret 2010

Sebagai negara berkembang yang ada di kawasan Asia Tenggara tentu saja masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh bangsa Indonesia yang besar ini, apabila hendak mencapai terwujudnya kualitas sumber daya manusia yang baik. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa pada saat ini dalam mencapai terwujudnya kualitas sumber daya tersebut peran lembaga pendidikan dan peran institusi yang berkaitan juga sangat diharapkan partisipasi aktif bersama dengan lembaga terkait.

Kemampuan melakukan riset atau penelitian merupakan indikator untuk melihat kualitas sumber daya manusia, terlebih pada pendidikan tinggi. Fenomena yang terjadi pada pendidikan tinggi di Indonesia justru cukup klasik, yaitu rendahnya kemampuan melakukan riset. Fenomena ini berlawanan dengan jumlah kampus perguruan tinggi yang tersebar di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 1.000 kampus. Dengan jumlah sebesar itu, seharusnya tingkat produktifitas keluaran riset/penelitian harus sebanding bahkan lebih tinggi dari jumlah kampus-kampus yang ada.

Hasil mengejutkan dikeluarkan oleh Times Higher Education Supplement (THES) yang dibeberkan majalah Time awal bulan November 2006 kemarin mengenai World University Rankings, hanya ada 4 (empat) perguruan tinggi negeri di Indonesia yang masuk dalam jajaran 500 kampus termasyur dunia. Universitas Indonesia (UI) berada diperingkat 250, Institut Teknologi Bandung (ITB) pada peringkat 258, Universitas Gadjah Mada (UGM) pada peringkat 270, dan Universitas Diponegoro (Undip) pada peringkat 495. kriteria penelian survei itu berkisar pada research quality, graduate employability, international outlook, dan teaching quality.

Hasil ini menjadi catatan kita bersama, dari sekitar 1.000 perguruan tinggi di negeri ini hanya 4 saja yang masuk 500 dunia. Ironis, lantas bagaimana nasib perguruan tinggi kita?

Tampaknya untuk menciptakan apalagi membudayakan trend riset di provinsi yang konon sedang giat-giat mencanangkan pembangunan ini masih sangat minim dan miskin. Hal ini sebanding dengan keberadaan jumlah perguruan tinggi yang ada di wilayah provinsi ini yang jumlahnya tidak kurang dari 30 perguruan tinggi. Kita bisa melihat sampai saat ini, jarang atau hanya beberapa produk riset, jurnal ataupun karya tulis ilmiah yang dipublikasi dan beredar di masyarakat made in Indonesia ini.

Riset adalah program yang memiliki makna dan fungsi strategis dalam pengembangan kualitas pendidikan sebuah institusi pendidikan. Hal ini sejalan dengan fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menekankan sinergisitas kampus sebagai institut pendidik, penelitian sekaligus pengabdian kepada masyarakat. Tak jarang, reputasi sebuah perguruan tinggi dipertaruhkan melalui ajang riset ataupun lomba penelitian bidang ilmu.

Mengkondisikan sebuah kampus agar memiliki power adalah sebuah proses dan kerja di dalamnya. Ada empat hal yang menjadi sumber energi bagi sebuah kampus, yakni; adanya selektivitas mahasiswa yang diterima menurut standar kriteria yang ditetapkan, kualitas pendidik yang dilihat dari pola rekrutmen dan sistem pengembangan karier, kualitas pengelolaan/manajemen, dan kualitas hasil penelitian dan pengabdian pada masyarakat.

Pada sebuah perguruan tinggi negeri di provinsi ini setiap tahunnya selalu mengadakan ajang lomba penelitian bidang ilmu yang diperuntukkan bagi para mahasiswa yang jumlahnya lebih dari 3.000 calon intelektual muda. Ajang tersebut dibagi atas 3 kelompok ilmu, yaitu sosial, alam, dan pendidikan. Sebuah ajang kompetisi yang paling sehat dan bermutu di kalangan mahasiswa ini ternyata kurang diminati oleh calon-calon intelektual muda di perguruan tinggi tersebut. Setiap tahunnya tercatat tidak lebih dari 9-13 naskah hasil penelitian dari tiap bidang yang berkompetisi. Wajar jika kemudian nama-nama perguruan tinggi di provinsi ini tenggelam dalam dominasi perguruan tinggi besar yang begitu merajai program riset yang dikompetisikan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti).

Kampus-kampus tersebut begitu produktif dalam menghasilkan riset. Bahkan tidak jarang, kebanyakan civitas kampusnya tersebut rajin membuat karya ilmiah yang dipublikasi oleh penerbit buku tertentu. Ketenaran nama kampus tersebut makin harum terlebih ketika calon intektual muda mereka berduyun-duyun mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Kontes Robot, Program Pemikiran Kritis Mahasiswa (PPKM) dan sederet kompetisi ilmiah yang cukup bergengsi di negeri ini.

Dari data yang diperoleh sepanjang tahun 2005 tercatat 701 mahasiswa dari perguruan tinggi negeri dan 134 mahasiswa dari perguruan tinggi swasta ikut meramaikan kompetisi ilmiah yang diselenggarakan oleh Dirjen Dikti. Dari sekian banyak jumlah mahasiswa tersebut, terdapat 13 perguruan tinggi yang paling responsif dalam mengikuti kegiatan penalaran mahasiswa tersebut, yakin; Universitas Brawijaya, UGM, IPB, ITB, Universitas Airlangga, UM, UNP, UNESA, IKIP Singaraja, UNES, UNTAN, ITS, dan UNS. Pertanyaan kembali muncul ada dimana perguruan tinggi kita lainnya?

Kenapa Harus Riset?

Prof Sukamto pernah mengemukakan ada 4 pilar penentu reputasi perguruan tinggi; pertama, reputasi kampus ditentukan oleh kualitas mahasiswa yang diluluskan. Hal ini wajar mengingat mahasiswa-mahasiswa tersebut nantinya akan menjadi duta-duta kampus di masyarakat. Kualitas mahasiswa ditunjukkan dengan selektivitas yang tinggi dan potensi akademik tinggi. Kedua, kualitas pendidik dengan kualitas yang tinggi beserta prestasi yang diraihnya di tingkat nasional/internasional. Ketiga, kualitas lulusan yang berprestasi dalam kariernya di masyarakat. Masyarakat sekarang sudah sangat cerdas dan mudah menghargai keberadaan alumni sebuah institusi yang mempunyai manfaat dan kontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keempat, reputasi sebuah perguruan tinggi sangat ditentukan dengan ada/tidaknya kontribusi karya ilmiah dan sumbangsih nyata bagi masyarakat tingkat nasional/internasional.

Sebenarnya seluruh hukum, aksioma, teori hingga praktek aplikasi merupakan buah dari riset, baik disadari maupun tidak. Bayangkan, seorang Newton yang namanya populer dalam hukum fisika, menemukan salah satu hukum fisika hanya berawal dari melihat sebutir apel yang jatuh ke bumi.

Secara gamblang, riset/penelitian yang dilakukan akan menghasilkan manfaat, diantaranya terciptanya sumber daya manusia berkualitas yang memiliki kemampuan riset dengan karakter ilmiah, kritis, berani menerima tantangan dan solution maker. Riset juga akan melahirkan pengetahuan baru. Dari hari ke hari dapat kita lihat disiplin ilmu di dunia semakin beragam dan spesifik.

Rendahnya budaya riset perguruan tinggi di Banten ini tentu saja dilatarbelakangi oleh beberapa faktor. Pertama, tendensi pola pikir pelaku pendidikan tinggi yakni dosen dan terutama mahasiswa yang masih berfikir Tidak Mau Susah. Seringkali kita terjebak dengan rutinitas jadwal mengajar dan mahasiswapun berjebak dalam behavior 3K, kampus, kantin dan kost, serta 3D, yaitu Datang, Duduk, dan Diam. Pola pikir ini ditakutkan menjadi paradigma permanen yang lengket di dalam hidup mereka. Kedua, kurangnya kemampuan intelektual civitas kampus dalam menyusun riset. Tidak sedikit dosen maupun mahasiswa ketika ditanya bagaimana menyusun proposal penelitian hingga teknis penelitian, rata-rata menyatakan be silent atau ketidaktahuan. Ketiga, tidak adanya atmosfer akademik dan sosio edukasi yang kondusif bagi muncul dan berkembangnya riset diperguruan tinggi, dan keterbatasan dana. Kondisi klasik ini sudah terlanjur di cap ajian pamungkas ketika sebuah program kegiatan tidak bisa dikerjakan.

Terobosan Cerdas

Sebelum kondisi diatas berkembang menjadi sebuah alergi akut apalagi syndrom anti riset. Kerja dan terobosan cerdas harus dicari untuk mengcounter kasus-kasus di atas. Ada beberapa terobosan yang mungkin saja dapat menjadi pencerahan bagi dunia riset kita.

Pertama, perlu diciptakan atmosfer riset. Hal ini merupakan kata kunci, atmosfer ini harus benar-benar berkembang menjadi budaya bahkan hobi, dan lokasinya tidak hanya sebatas kampus tetapi juga di tengah-tengah masyarakat. Kedua, adanya apresiasi berupa penghargaan terhadap hasil-hasil riset yang dipublikasi. Dalam konteks psikologi, apresiasi merupakan bentuk perhatian yang nilainya bak mutiara berkilau. Ketiga, stimulan aktif dari pemerintah selaku pihak yang berkewajiban meningkatkan kualitas pendidikan pada perguruan tinggi.

Koordinasi pelaksanaan riset selama ini memang masih dimotori oleh Dirjen Dikti. Namun, keterbatasan yang dimiliki oleh lembaga ini hendaknya turut diback up oleh pemerintah daerah, apalagi bila riset yang dilaksanakan tersebut menghasilkan produk yang sifatnya aplikatif bagi pemerintah, kalangan swasta dan masyarakat.*** Prakoso Bhairawa Putera S

0 komentar:

Poskan Komentar

 
 
 

BERGABUNG DENGAN BLOG INI

PENJAGA LAMAN

Foto Saya
prakoso bhairawa
Lahir di Tanjung Pandan (pulau Belitung), 11 Mei 1984. Ia memiliki nama pena KOKO P. BHAIRAWA. Duta Bahasa tingkat Nasional (2006) ini kerap menulis di berbagai media cetak Nasional dan Daerah. Buku-bukunya: Megat Merai Kandis (2005), La Runduma (2005), Ode Kampung (2006), Uda Ganteng No 13 (2006), Menggapai Cahaya (2006), Aisyah di Balik Tirai Jendela (2006), Teen World: Ortu Kenapa Sih? (2006). Asal Mula Bukit Batu Bekuray (2007), Medan Puisi (2007), 142 Penyair Menuju Bulan (2007), Ronas dan Telur Emas (2008), Tanah Pilih (2008), Putri Bunga Melur (2008), Aku Lelah Menjadi Cantik (2009), Pedas Lada Pasir Kuarsa (2009), Cerita Rakyat dari Palembang (2009), Wajah Deportan (2009), Pendekar Bujang Senaya (2010), Ayo Ngeblog: Cara Praktis jadi Blogger (2010), dan Membaca dan Memahami Cerpen (2010). Tahun 2009 menjadi Nominator Penulis Muda Berbakat – Khatulistiwa Literary Award. Saat ini tercatat sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Beralamat di koko_p_bhairawa@yahoo.co.id, atau di prak001@lipi.go.id
Lihat profil lengkapku