SUDAH PINDAH RUMAH -> ADA KOKO

PERANAN MEDIA CETAK LOKAL

Senin, 15 Maret 2010

Bangka Pos dan Pemertahanan Bahasa Ibu (Bagian III)

OLeh: Prakoso Bhairawa PUTERA,
Duta Bahasa tingkat Nasional 2006 dan Peneliti LIPI

dipublikasi di Bangka Pos, edisi Minggu (14 Maret 2010)

Fishman (1972) menyebutkan bahwa salah satu faktor penting pemertahanan sebuah bahasa adalah adanya loyalitas masyarakat pendukungnya. Dengan loyalitas itu, pendukung suatu bahasa akan tetap mewariskan bahasanya dari generasi ke generasi. Selain itu juga Holmes (1993) dalam Arka (2009) menunjuk tiga faktor utama yang berhubungan dengan keberhasilan pemertahanan bahasa. Pertama, jumlah orang yang mengakui bahasa tersebut sebagai bahasa ibu mereka. Kedua, jumlah media yang mendukung bahasa tersebut dalam masyarakat (sekolah, publikasi, radio, dan lain-lain. Ketiga, indeks yang berhubungan dengan jumlah orang yang mengakui dengan perbandingan total dari media-media pendukung.

Berdasarkan hal tersebut maka media cetak lokal (Bangka Pos Group) telah sejak awal penerbitan (1999) memasukkan unsur bahasa ibu (melayu Bangka Belitung) dalam penerbitan. Keberpihakan Harian Pagi Bangka Pos terlihat dari tampil pertama kali dengan motto “Yo Kite Punye Provinsi!” atau dalam bahasa Indonesianya “Ayo kita punya Provinsi!”. Penggunaan kata “Yo”, “Kite”, dan “Punye” jelas merupakan bahasa ibu yang beredar penggunaanya di wilayah Bangka Belitung. Perkembangan berikutnya setelah provinsi terwujud, koran ini bersemboyan “Yo Kite Bangun Provinsi!” atau “Ayo Kita Bangun Provinsi”. Di tahun-tahun berikutnya harapan dan semangat terus di suarakan Bangka Pos dan Pos Belitung dalam slogan-slogannya seperti “Korannya Masyarakat Bangka Belitung”, “Bersyukur Membawa Perubahan”, “Yo Berdemokrasi Tanpa Anarki”, “Sewindu Menembus Kalbu”, dan “Sprit Baru Negeri Serumpun Sebalai”. Kondisi semacam ini mencerminkan adanya kepedulian besar terhadap pemertahanan bahasa ibu.

Pemertahanan bahasa ibu (melayu Bangka Belitung) semakin ditunjukkan oleh Bangka Pos dengan menghadirkan rubrikasi (kolom) halaman budaya pada edisi mingguan. Bersepakat dengan Suryadin (2008) bahwa pada prinsipnya media massa berkewajiban mengembangkan seni dan budaya daerahnya masing-masing. Hal ini membuktikan media massa tidak semata-mata mengejar profit, tetapi juga memiliki idialisme dalam memajukkan seni dan budaya khususnya di daerahnya Bangka Belitung.

Bahkan Harian Pagi Bangka Pos memuat kolom khusus budaya yang sangat kental. Ada rubrik puisi berbahasa melayu Bangka yang diasuh oleh Amang Ikak dengan nama rubrikasi Hikayat. Tidak hanya itu untuk menambah semaraknya penggunaan bahasa melayu Bangka, media cetak lokal yang terbit di Pangkalpinang ini menghadirkan humor-humor segar dalam bentuk pantun berbahasa daerah (bisa juga dinamakan bahasa ibu, sehari-hari yang digunakan). Rubrikasi ini diberi nama Bujang Besaot. Pantun yang disajikan rata-rata 21 – 30 pantun di setiap edisi mingguan merupakan kiriman dari para pembaca kedua media tersebut.

Berdasarkan penerbitan edisi Juli 2009 – Januari 2010, halaman kolom Hikayat (Bangka Pos) acap kali memuat puisi-puisi dengan masalah-masalah aktual di daerah. Pada Puisi Amang Ikak (Suryadin, 2008) selalu bercerita tentang keadaan yang terjadi di Bangka Belitung baik yang berlatar sosial, keadaan alam, politik, budaya, dan lain sebagainya.

Penyajian puisi-puisi tersebut sangat khas. Puisi Amang Ikak setidaknya memiliki empat ciri khusus sebagai berikut: 1) Penggunaan bahasa ibu bangka (pangkalpinang) adalah ciri utama dari puisi ini, 2) Puisi ini sangat terikat dengan pola-pola puisi lama khas gurindam melayu, 3) Pola runtunan puisi diawali dengan gaya humor kemudian berbicara realita dan diakhiri dengan saran ataupun pandangan pribadi penulis terhadap masalah, 4) tanggal pembuatan dan selalu khas dengan kelekak lukok, dan 5) Puisi ini memuat kamus bahasa yang mempermudahkan bagi pembaca untuk mengetahui.

Seperti pada edisi Aek Tatong yang bercerita tentang buruknya drainase kota sehingga ketika musim hujan turun banyak menimbulkan genangan yang oleh masyarakat setempat dinamakan Aek Tatong. Jika diperhatikan pada alinea 1-3 merupakan pengantar khas dengan gaya humor, lalu mulai aline 4-6 merupakan realita keadaan tentang dampak buruknya drainase kota, sedangkan dialinea terakhir (alinea 7) merupakan saran dari penulis.

Rubrikasi Amang Ikak (Hikayat) menjadi sarana pemertahanan terhadap bahasa ibu (melayu Bangka) yang baik. Selain menuliskan puisi dalam bahasa melayu Bangka, puisi tersebut memuat kamus yang menjadikan rubrik ini paling unggul diantara rubrik-rubrik yang lain. Pemuatan kamus dibagian bawah rubrik mempermudah pembaca baik anak-anak ataupun pendatang untuk memahami bahasa ibu (melayu Bangka).

0 komentar:

Poskan Komentar

 
 
 

BERGABUNG DENGAN BLOG INI

PENJAGA LAMAN

Foto Saya
prakoso bhairawa
Lahir di Tanjung Pandan (pulau Belitung), 11 Mei 1984. Ia memiliki nama pena KOKO P. BHAIRAWA. Duta Bahasa tingkat Nasional (2006) ini kerap menulis di berbagai media cetak Nasional dan Daerah. Buku-bukunya: Megat Merai Kandis (2005), La Runduma (2005), Ode Kampung (2006), Uda Ganteng No 13 (2006), Menggapai Cahaya (2006), Aisyah di Balik Tirai Jendela (2006), Teen World: Ortu Kenapa Sih? (2006). Asal Mula Bukit Batu Bekuray (2007), Medan Puisi (2007), 142 Penyair Menuju Bulan (2007), Ronas dan Telur Emas (2008), Tanah Pilih (2008), Putri Bunga Melur (2008), Aku Lelah Menjadi Cantik (2009), Pedas Lada Pasir Kuarsa (2009), Cerita Rakyat dari Palembang (2009), Wajah Deportan (2009), Pendekar Bujang Senaya (2010), Ayo Ngeblog: Cara Praktis jadi Blogger (2010), dan Membaca dan Memahami Cerpen (2010). Tahun 2009 menjadi Nominator Penulis Muda Berbakat – Khatulistiwa Literary Award. Saat ini tercatat sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Beralamat di koko_p_bhairawa@yahoo.co.id, atau di prak001@lipi.go.id
Lihat profil lengkapku