AKU LELAH MENJADI CANTIK (TELAH BEREDAR)

Jumat, Juli 17, 2009

Pers Rilis TSI II di Bangka Belitung

PERS RILIS

TEMU SASTRAWAN INDONESIA II

Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung, 30 Juli-2 Agustus 2009

“SASTRA INDONESIA PASCAKOLONIAL

Dengan hormat,

Temu Sastrawan Indonesia (TSI) II akan diselenggarakan pada tanggal 30 Juli-2 Agustus 2009 di Badan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung dengan mengambil tema“Sastra Indonesia Pascakolonial”.

Adapun kegiatan yang merupakan kelanjutan dari Temu Sastrawan Indonesia (TSI) I di Jambi pada tahun sebelumnya ini terdiri dari sejumlah agenda penting seperti:

Seminar/ Dialog Sastra

Terdiri dari empat (4) sesi dengan subtema:

a). “Merumuskan Kembali Sastra Indonesia: Definisi, Sejarah, Identitas”

Pembicara: Agus R. Sarjono, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, Saut Situmorang,Yasraf Amir Piliang. Moderator: Joni Ariadinata

b). “Kritik Sastra Indonesia Pascakolonial”

Pembicara: Dr. Syafrina Noorman, Haryatmoko, Katrin Bandel, Ph.D, Zen Hae, Moderator: Willy Siswanto

c). “Membaca Teks dan Gerakan Sastra Muktahir: Mencari Subjek Pascakolonial”

Pembicara: Dra. Nenden Lilis Aisyah, M.Pd, Nurhayat Arif Permana, Zurmailis, Radhar Panca Dahana. Moderator: Triyanto Triwikromo

d). “Penerjemahan Sastra: Keharusan, Pilihan, atau Sekadar Perkenalan”

Pembicara: Anton Kurnia, Jean Coectou, Arif Bagus Prasetyo, John McGlynn, Moderator: Tia Setiadi

Malam Panggung Apresiasi : Acara ini berisi pembacaan sajak/ cerpen, musikalisasi puisi, teaterikal, monolog, dan pementasan kesenian-kesenian tradisi.

Penerbitan Buku Antologi : Ada dua buah buku antologi sastra yang diterbitkan dalam Temu Sastrawan Indonesia (TSI) II ini, yaitu: “Jalan Menikung ke Bukit Timah” (antologi cerpen) dan “Pedas LadaPasir Kuarsa” (antologi puisi). Kedua buku ini memuat ratusan karya cerpenis/ penyair Indonesia yang dikuratori oleh Raudal Tanjung Banua.

Launching dan Bazar Buku : Ada sejumlah buku sastra muktahir yang akan dilaunching/ dibedah pada malam ketiga pelaksanaan TSI II.

Wisata Budaya

Demikianlah Pers Rilis ini kami sampaikan. Atas perhatian dan kerjasamanya, kami haturkan terima kasih. Salam sastra!

Pangkalpinang, 15 Juli 2009

Hormat kami,

Sunlie Thomas Alexander

(Ketua Umum TSI II)

Selasa, Juni 30, 2009

Pemartabatan Masyarakat Komunikatif

Tulisan ini dipublikasi di Harian Pagi Bangka Pos, edisi 29 Juni 2009 (klik disini)


Oleh: Prakoso Bhairawa Putera, Duta Bahasa Nasional, Peneliti LIPI (Jakarta)

untuk mengharapkan warga sekolah dapat menjadi agen perubahan, Counts sendiri mensyaratkan adanya komitmen kolektif ...

Hidup di negeri yang berslogan gemah ripah loh jinawi ini sepertinya tidak mudah lagi. Menghidupi diri tidak dengan gampang layaknya menanam kayu yang kemudian tumbuh dan dapat diolah menjadi bahan makanan seperti yang sering diajarkan nenek moyang. Mencari lahan untuk tinggal pun, harus membayar tinggi jika tidak ingin kebagian tempat di bantaran kali atau tersudut di pojok hutan sambil menunggu digugat oleh petugas dan dimintai biaya untuk administrasi tanah. Bahkan kehidupan nyaman pun tak luput dari tragedi alam hingga lantas berhadapan dengan selalu semrawutnya penanganan pemerintah yang bahkan semakin memperlambat proses bantuan yang secara tulus disalurkan.

Seperti tidak cukup dengan tragedi alam yang kerap terjadi. Persoalan korupsi dan patologi mental birokrasi dan politik lainnya masih terasa. Usaha pemberantasan selalu dihadapkan dengan sebuah budaya yang telah tumbuh dan berkembang lama; menjadi sistemik, dan mambangun pola kerangka berfikir pemerintah. Melawannya (meminjam salah satu buah pikir Milan Kundera) seperti ingatan yang berjuang melawan lupa. Maka, kemiskinan struktural terjadilah. Dan seperti yang dipesankan Nabi Muhammad SAW, kemiskinanlah yang membawa kita menjadi seorang kufur, yang hatinya tertutup dari cahaya kebajikan alias penuh dengan niat dan tekad kriminal. Akan semakin panjang dan lama bila masih ingin menyusun daftar “kekurangan” Indonesia.

Akan semakin beragam pula ungkapan serupa “malu Aku Jadi Orang Indonesia”-nya Taufik Ismail atau “Bangsaku yang Menyebalkan”-nya Eep Saefulloh Fatah. Namun, ajakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono seharusnya juga menjadi sikap kita, tidak hanya bencana yang melanda, tapi kondisi Indonesia secara keseluruhan. “Hanya satu tanah airku. Ia berkembang dengan amal, dan amal itu adalah amalku,”begitu ucap Muhammad Hatta yang juga lebih baik menjadi gumam kita.

Sudah selayaknya kita sebagai bagian dari masyarakat untuk lebih memprioritaskan kebersamaan dalam kebhinekaan, persatuan, kesatuan dan kreativitas membangun bangsa. Karena dengan inilah akan mampu menjalankan paradigma baru bangsa dengan potensi, kreativitas, optimisme, dan sikap kebhinekaan yang mampu menguasai diri dalam ilmu pengetahuan dan teknologi serta tidak melupakan ajaran ilahi. Untuk semua itu perlu adanya persatuan diantara individu-individu bangsa ini, terlebih di antara generasi mudanya.

Sebagai kaum muda harapan bangsa, pemuda wajib membangun kembali benteng persatuan yang sempat goyah. Untuk mengupayakan hal itu harus dimulai dengan komitmen kebangsaan, idealisme yang kuat akan keinginan untuk tetap berpegang teguh pada cita-cita kemerdekaan bangsa dan rasa persatuan kesatuan itu sendiri. Generasi muda juga perlu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan karena dengan ini berarti kita memperlakukan orang lain secara sama, tanpa membedakan status sosial sehingga orang lain merasakan diperlakukan secara adil sesuai dengan harkat dan martabatnya.

Jika mengkaji gagasan Geogre S. Counts yang meyakini sekolah sebagai salah satu basis pergerakan perubahan sosial, sungguh sangat menarik. Selama ini rasanya pendidikan di Indonesia (kembali) belum maksimal. Padahal untuk mengharapkan warga sekolah dapat menjadi agen perubahan, Counts sendiri mensyaratkan adanya komitmen kolektif terutama dari pendidik untuk memberikan teladan terhadap kesadaran akan tujuan dan visi bersama bangsa. Serta mengajarkan agar tak ragu dan kikuk berhadapan (bahkan menggunakan) kekuasaan yang dapat diraih, selama itu dalam kerangka memperjuangkan tegaknya visi bersama tersebut.

Apabila pemikiran ini kita analogikan dalam sebuah konsep negara, maka kesadaran kolektif sepertinya harus terbangun guna prasyarat untuk mewujudkan sistem sosial dan politik yang tidak mendominasi; dalam bahasa filsafat politik Aristoteles, politik harus menjadi jalan mencapai kehidupan yang baik (goodlife). Tak ada dominasi satu pihak, yang diperlukan adanya paradigma kerja dan paradigma komunikasi.

Dalam perspektif masyarakat yang komunikatif, interaksi atau komunikasi yang berlangsung dua arah, dengan daya saling mengimbangi secara proporsional hanya akan terwujud jika prasyarat intelektual; kesadaran rasional, kemampuan komunikasi itu terpenuhi. Jika tidak hegemoni yang berkuasa hanya akan menjadi warna dominan dan membuat proses kemajuan bangsa kembali mengalami degradasi.

Bekerjasama dapat menumbuhkan kebersamaan yang bermuara pada rasa persatuan dan kesatuan. Sebagai orang muda, jangan takut untuk minta maaf. Dalam kehidupan. Wajar jika terkadang kita melakukan kesalahan. Karena, bila masalah kecil kita biarkan maka lama kelamaan akan menjadi besar dan ini akan membahayakan persatuan kita bersama.

Telah banyak contoh yang mengarah pada hal ini, akankah kita menambahnya. Karena itu, upaya menyelesaikan masalah dari yang kecil-kecil agar tidak membahayakan persatuan bangsa menjadi cara ampuh untuk pemartabatan bangsa. Mengisi waktu luang dengan hal yang bermanfaat dapat menghindarkan dari usaha-usaha provokatif pihak lain.

Di lain pihak, menjaga sikap dan mampu mengendalikan diri dalam kehidupan bermasyarakat perlu dikembangkan. Selain itu, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam pergaulan sehari-hari dapat dijadikan upaya membangunkan kembali rasa persatuan, karena dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi kesalahpahaman akan terhindar.

Intropeksi atau refleksi adalah cara untuk kembali menyadarkan bahwa apa yang telah, sedang dan akan dilaksanakan. Ibarat kaca spion bagi kita, kita dapat sesekali menengok ke belakang, agar langkah maju kita tak tertikam bahaya laten ataupun kecerobohan yang tak perlu. Termasuk keliru memahami dan menghadapi perubahan.

Masyarakat komunikatif tercipta dengan mampu merasakan kepekaan dan kepedulian serta siap beragumentasi untuk memecahkan permasalahan kompleks yang diidap. Kongkritnya dengan cara itu, dapat mengawal masa-masa sulit ini menuju suatu arah yang tepat. Bagaimanapun menyiapkan seperangkat infrastruktur yang kapabel menyikapi setiap kejutan-kejutan arah angin perubahan secara tenang dan penuh perhitungan dalam konsensus, dapat menyediakan energi yang berlimpah ketika kita amat membutuhkannya. Mengkedepankan prioritas tidak bermakna mengesampingkan kebutuhan lainnya.

Memang yang lebih diperlukan adalah kemampuan memelihara memori dan mengambil pelajaran dari apa yang sudah bersama kita lalui sebagai sebuah bangsa. Sebuah refleksi adalah juga jalan untuk upaya merawat ingatan; bahwa kemerdekaan ini adalah hasil perjuangan beratus dekade oleh berjuta pejuang; bahwa otoriterianisme merupakan jalan yang tidak kita inginkan sebagai bangsa yang bercita-cita dewasa; bahwa represifitas melumpuhkan demokrasi dan intelektualitas; bahwa kebebasan berpikir dan bersuara telah dibayar mahal oleh nyawa yang tak ternilai; bahwa korupsi dan kawan-kawannya telah menghancurkan sendi-sendi keadilan dan meluluhlantakkan harapan untuk hidup makmur, sejahtera, dan berkeadilan; bahwa wajah pendidikan menentukan karakter bangsa; bahwa persoalan bangsa ini adalah persoalan yang harus kita selesaikan secara bersama-sama; bahwa jauh dari tempat kita berada banyak sosok yang tulus bergerak untuk sesuatu yang memiliki nilai kontribusi tinggi daripada kita yang hanya berdiam sambil berpura diskusi dan turut berpikir.**

Rabu, Juni 24, 2009

Sepuluh-Sepuluh

Oleh : Prakoso Bhairawa Putera, Duta Bahasa Nasional, Peneliti LIPI.

Tulisan ini dipublikasi di Harian Pagi BANGKA POS, edisi 22 Juni 2009 (klik disini)

Dengan membacakan, maka apa yang sejatinya tak terbaca itu terbantu untuk hadir sebagai makna. Maka, lelaku manusia di dunia ini sejatinya adalah sebuah lelaku membaca...membaca apa saja yang ditatapnya. Hanya dengan membaca manusia ada. Maka mulai hari ini kampanyekan 10 untuk 10, 10 menit untuk 10 lembar setiap hari

Menyisihkan waktu 10 menit mungkin setiap orang mampu untuk melaksanakan, tetapi 10 menit untuk membaca buku mungkin saja berat untuk dilaksanakan. Paling tidak itulah yang dilakukan oleh salah seorang pimpinan (muda) di sebuah perusahaan penyedia layanan telekomunikasi.

Saya ingat betul akan penuturan dan kemampuan beliau menganalisa setiap permasalahan yang ada. Disela-sela waktu, saya dan beliau menyempatkan berdialog tentang kebiasaan sehari-hari.

Sosok pimpinan itu, ternyata selalu mengambil waktu 10 menit setelah mandi sore untuk membaca buku. Kenapa setelah mandi? karena menurut beliau seusai mandi badan terasa enak dan kondisi seperti itu sangat cocok untuk membaca. Bukan hanya itu, suasana ketika membacapun tidak boleh ada gangguan baik dari suara televisi, ataupun ponsel.

Untuk menambah suasana lebih nyamana, tak jarang ruang kamar tempat membaca disemprotkan pengharum ruangan. Nah, alhasil dalam waktu 1 bulan beliau bisa membaca 1-2 buku yang tebalnya lebih dari 150-200 halaman.

Saya terdiam dan berfikir sejenak, alangkah indahnya jika setiap orang (muda) di negeri ini bisa hidup dan membiasakan diri melakukan kegiatan semacam itu. Terlebih kita yang masih tergolong muda. Mungkin saja republik bernama Indonesia, tidak akan lagi miskin pengetahuan dan intelektual. Sehingga mampu keluar dari setiap permasalahan yang menimpa.

Begitu juga dengan pemerintah yang tidak perlu gusar melihat data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (2003) tentang gambaran minat baca bangsa Indonesia. Berdasarkan data tersebut, terlihat jelas bahwa penduduk Indonesia berumur di atas 15 tahun yang membaca koran hanya 55,11 persen.

Sementara yang membaca majalah atau tabloid hanya 29,22 persen, buku cerita 16,72 persen, buku pelajaran sekolah 44,28 persen, dan yang membaca buku ilmu pengetahuan lainnya hanya 21,07 persen.

Data BPS lainnya juga menunjukkan bahwa penduduk Indonesia belum menjadikan baca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton televisi dan atau mendengarkan radio.

Malahan kecenderungan cara mendapatkan informasi lewat membaca stagnan sejak 1993. Hanya naik sekitar 0,2 persen. Jumlah itu jauh jika dibandingkan dengan menonton televisi yang kenaikan persentasenya mencapai 21,1 persen.

Data pada 2006 menunjukkan bahwa orang Indonesia yang membaca untuk mendapatkan informasi baru 23,5 persen dari total penduduk. Sementara itu, mendapatkan informasi dengan menonton televisi sebanyak 85,9 persen dan mendengarkan radio sebesar 40,3 persen.

Bahkan berdasarkan Human Development Report 2007/2008 yang dikeluarkan oleh United Nations Development Programme (UNDP), menyatakan bahwa Human Development Index (HDI) Indonesia di urutan 107 dengan 0,728, dan tragisnya Indonesia berada dua tingkat di bawah Vietnam 0,733 (peringkat 105).

Lalu dimana posisi negara-negara tetangga lainnya? Jauh, jauh diatas Indonesia, Singapura 0,922 (Peringkat 25), Brunei 0,894 (30), Malaysia 0,811 (63), Thailand 0,781 (78), dan Filipina 0,758 (90). Tiga negara seperti Singapura, Brunei dan Malaysia masuk dalam jajaran negara High Human Development.

Pengukuran HDI merupakan perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan, dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. HDI digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang, atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup.

Hasil ini jelas sekali mengindikasi bahwa belum maksimalnya kualitas bangsa ini, dan salah satu faktornya belum maksimalnya angka melek huruf.

Rendahnya budaya baca disebabkan budaya generasi muda yang cenderung menyukai tontonan. Tontonan tersebut dihadirkan oleh media elektronik (televisi). Toeti Adhitama (2008) menyebutkan bahwa kemajuan media elektronik adalah salah satu faktor yang ikut menghambat lajunya minat baca.

Sejak dahulu masyarakat lebih mengandalkan budaya lisan daripada tulisan. Masyarakat lebih menyukai menonton wayang, atau yang sejenisnya. Maka tidak terlalu kaget ketika melihat masyarakat saat ini rela menghabiskan waktu di depan televisi daripada membaca.

Gejala semacam ini sebenarnya ada di setiap negara, bergantung pada kelompok masyarakatnya, tontonannya, dan jenis bahan bacaan yang ada.

Dan, jika kita mau lebih dalam memahami esensi membaca, kita bisa melihat sebuah kisah dalam Al Quran yang menyebutkan bahwa semesta berawal dari “kata” yang menjadi pengetahuan. Barangkali karena semesta berawal dari “kata” inilah maka perintah bagi manusia adalah “bacalah!”.

Kenapa “bacalah”?. Karena segala yang mesti dibaca tak mampu membacakan dirinya sendiri tanpa ada niat dari manusia untuk membacanya.

Dengan membacakan, maka apa yang sejatinya tak terbaca itu terbantu untuk hadir sebagai makna. Maka, lelaku manusia di dunia ini sejatinya adalah sebuah lelaku membaca...membaca apa saja yang ditatapnya. Hanya dengan membaca manusia ada. Maka mulai hari ini kampanyekan 10 untuk 10, 10 menit untuk 10 lembar setiap hari.(*)

"Magical Template" designed by Blogger Buster