SUDAH PINDAH RUMAH -> ADA KOKO

Ragam Bahasa dan Publikasi Sastra di Ranah TIK

Sabtu, 07 Maret 2009

Tulisan ini dipublikasi di Majalah Biskom edisi Februari 2009.

Oleh : Prakoso Bhairawa Putera

SEKITAR November 2008 kemarin dari Seminar Nasional bertemakan Bahasa dan Sastra dalam berbagai perspektif bidang ilmu yang diselenggarakan oleh FBS-UNY, ada sebuah tulisan saya yang menarik untuk dibagi kepada pembaca Biskom. Mulai Edisi ini akan diturunkan secara bertahap.

Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak bisa lepas dari interaksi, bekerja sama, dan menjalin kontak sosial di dalam masyarakat. Dalam melakukan hal tersebut, manusia membutuhkan sebuah alat komunikasi berupa bahasa. Bahasa memungkinkan manusia membentuk kelompok sosial, sebagai pemenuhan terhadap kebutuhannya untuk hidup bersama. Dalam kelompok sosial tersebut manusia terikat secara individu. Keterikatan individu-individu dalam kelompok ini sebagai identitas diri dalam kelompok tersebut. Setiap individu adalah anggota dari kelompok sosial tertentu yang tunduk pada seperangkat aturan yang disepakati dalam kelompok tersebut. Salah satu aturan yang terdapat di dalamnya adalah seperangkat aturan bahasa.

Bahasa merupakan suatu sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal yang bersifat arbitrer, yang dapat diperkuat dengan gerak-gerik badaniah yang nyata. Kemudian, Kebudayaan suatu bangsa dapat dikembangkan serta diturunkan kepada generasi berikutnya dengan menggunakan bahasa (Nursalim, 2005 dalam Novi Lesmana. 2007).

Bahasa sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri dipergunakan untuk mengkespresikan segala sesuatu yang tersirat di dalam pikiran dan perasaan penuturnya. Ungkapan pikiran dan perasaan manusia dipengaruhi oleh dua hal yaitu oleh keadaan pikiran dan perasaan itu sendiri. Ekspresi bahasa lisan dapat dilihat dari mimik, lagu/intonasi, tekanan, dan lain-lain. Ekspresi bahasa tulis dapat dilihat dengan diksi, pemakaian tanda baca, dan gaya bahasa. Ekspresi diri dari pembicaraan seseorang memperlihatkan segala keinginannya, latar belakang pendidikannya, sosial, ekonomi. Selain itu, pemilihan kata dan ekspresi khusus dapat menandai indentitas kelompok dalam suatu masyarakat. Sebagai alat komunikasi, bahasa mempunyai fungsi sosial dan fungsi kultural.

Bahasa sebagai fungsi sosial adalah sebagai alat perhubungan antaranggota masyarakat. Sedangkan sebagai aspek kultural, bahasa sebagai sarana pelestarian budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hal ini meliputi segala aspek kehidupan manusia yang tidak terlepas dari peranan kehidupan manusia yang tidak terlepas dari peranan bahasa sebagai alat untuk memperlancar proses sosial manusia. Komunikasi adalah pengiriman atau penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami (Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2005).

Indonesia sejak kongres Pemuda 28 Oktober 1928 telah meletakkan bahasa sebagai salah satu perwujudan politik bangsa. Bahasa Indonesia dijadikan bahasa persatuan (nasional) bangsa. Bahasa Indonesia telah menyatukan berbagai lapisan masyarakat ke dalam satu-kesatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia mencapai puncak perjuangan politik sejalan dengan perjuangan politik bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Hal ini dibuktikan dengan dijadikannya bahasa Indonesia sebagai bahasa negara (lihat pasal 36 UUD 1945, lihat juga hasil amandemen UUD, Agustus 2002).

Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara telah menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks). Ipteks berkembang terus sejalan dengan perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Perkembangan ipteks yang didukung oleh perkembangan teknologi komunikasi dan informasi (seperti internet, e-mail, e-business, e-commerce, TV-edukasi, dan lain-lain) melaju dengan pesat terutama memasuki era konvergen seperti saat ini.

Pada era konvergen, ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi. Perkembangan ilmu yang terjadi selama ini tidaklah berlangsung secara tiba-tiba, melainkan terjadi secara bertahap. Perkembangan ilmu terjadi karena manusia selalu dihadapkan pada tantangan alam, situasi dan kondisi yang memacu daya kreativitasnya. Selalu terdapat dorongan untuk membuat manusia melangkah ke arah kemajuan dan dorongan tersebut adalah rasa ingin tahu (curiousity) (Mutansyir, 2002: 63).

Teknologi melahirkan perangkat komunikasi dalam bentuk telepon dan komputer yang dikenal dengan istilah internet yang merupakan perkembangan hasil teknologi komputer dan saluran telepon. Internet adalah dunia maya yang merupakan hubungan antara berjuta-juta komputer hingga melewati batas wilayah geografis (Suryadi, 2004: 9).

Internet sebagai media baru menawarkan hal yang lebih mudah kepada mereka yang mengetahui teknologi komputer untuk sarana berekspresi kreatif dan bersifat instant sekali jadi dan langsung serta interactive ditanggapi oleh sesama anggota mailing list. Mailing list merupakan kelompok diskusi terbuka melalui internet dalam bentuk surat-menyurat elektronik atau yang dikenal dengan nama electronic mail (e-mail) yang kemudian menjadi pos el. Ini juga terjadi pada penggunaan telepon genggam dengan layanan pesan pendek (sistem maklumat singkat-SMS) yaitu dimanfaatkan untuk menulis puisi dengan keterbatasan jumlah huruf yang dapat ditampilkan di layar telepon genggam.

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia mengalami peningkatan di tiap tahunnya. Ini ditandai dengan bertambahnya jumlah pelanggan dan jumlah pemakai jasa internet di Indonesia (lihat tabel 1). Bertambahnya jumlah pelanggan dan pemakai internet membawa dampak pada kegiatan aktifitas yang dilakukan oleh pengguna jasa internet tersebut. Bahkan berdasrkan data terakhir (2008) yang dikeluarkan oleh internetworldstats.com menempatkan Indonesia pada urutan ke 5 (lima) dalam Asia Top Ten Internet Countries.



Sumber: APJII, 2008

Tabel 1. Perkembangan Jumlah Pelanggan dan Pemakai Internet di Indonesia

Salah satu kegiatan yang marak dilakukan sejak tahun 2000 adalah menulis sejenis catatan harian milik sendiri yang diletakkan di internet, yang bisa dikomentari dan dibaca oleh setiap pengunjung internet tersebut. Catatan harian tersebut disebut weblog atau bisa disingkat blog, dan orang yang melakukan aktifitas penulisan weblog tersebut disebut blogger.

Kegiatan semacam ini sebenarnya tidak hanya marak di Indonesia, hampir setiap belahan dunia melakukan aktivitas semacam ini. Dalam perkembangannya hal-hal yang dituliskan di blog bukan lagi sekadar catatan harian, melainkan juga tulisan engenai ilmu pengetahuan, sastra, politik, dan masih banyak lagi. Blog telah membuat setiap pengguna Internet bisa menjadi penulis isi website mereka sendiri.

Laju pertumbuhan jumlah blogger di Indonesia jauh melebihi laju pertumbuhan pengguna Internet yang ada. Budi Putra (2008), seorang blogger profesional pertama di Indonesia mengatakan bahwa saat ini diperkirakan jumlah blogger Indonesia adalah mencapai angka 400.000 orang, dengan jumlah yang menjadi 2 kali lipat setiap 6 bulan. Jumlah ini cukup kecil dibandingkan dengan jumlah pengguna blog di seluruh dunia. Technorati (2008) mencatat di awal tahun 2007 ada sekitar 70 juta blog di dunia. Kawasan ASIA sendiri memiliki jumlah blog sekitar 24,5 juta. Korea Selatan memiliki jumlah blog sekitar 15 juta, Cina 4 juta blog, Jepang 3,35 juta blog, dan sisanya merupakan blog yang berasal dari Asia Tenggara.

Fenomena maraknya penggunaan blog atau jurnal online khususnya di Indonesia menjadikan kajian tersendiri mengenai penggunaan ragam bahasa dan publikasi karya sastra. Hal ini menarik karena jurnal online sebagai ruang terbuka di ranah teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sarat akan muatan-muatan penyebaran informasi dan komunikasi. Keberadaan ragam bahasa dan publikasi karya sastra pun mengalami tumbuh dan berkembang seiring kemanjuan di ranah TIK.***

1 komentar:

paperbag mengatakan...

bagus artikelnya !!

Poskan Komentar

 
 
 

BERGABUNG DENGAN BLOG INI

PENJAGA LAMAN

Foto Saya
prakoso bhairawa
Lahir di Tanjung Pandan (pulau Belitung), 11 Mei 1984. Ia memiliki nama pena KOKO P. BHAIRAWA. Duta Bahasa tingkat Nasional (2006) ini kerap menulis di berbagai media cetak Nasional dan Daerah. Buku-bukunya: Megat Merai Kandis (2005), La Runduma (2005), Ode Kampung (2006), Uda Ganteng No 13 (2006), Menggapai Cahaya (2006), Aisyah di Balik Tirai Jendela (2006), Teen World: Ortu Kenapa Sih? (2006). Asal Mula Bukit Batu Bekuray (2007), Medan Puisi (2007), 142 Penyair Menuju Bulan (2007), Ronas dan Telur Emas (2008), Tanah Pilih (2008), Putri Bunga Melur (2008), Aku Lelah Menjadi Cantik (2009), Pedas Lada Pasir Kuarsa (2009), Cerita Rakyat dari Palembang (2009), Wajah Deportan (2009), Pendekar Bujang Senaya (2010), Ayo Ngeblog: Cara Praktis jadi Blogger (2010), dan Membaca dan Memahami Cerpen (2010). Tahun 2009 menjadi Nominator Penulis Muda Berbakat – Khatulistiwa Literary Award. Saat ini tercatat sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Beralamat di koko_p_bhairawa@yahoo.co.id, atau di prak001@lipi.go.id
Lihat profil lengkapku