SUDAH PINDAH RUMAH -> ADA KOKO

Pemimpin Muda, Bisa!

Rabu, 25 Maret 2009

Tulisan ini dipublikasi di Harian Pagi Bangka Pos, edisi Selasa 24 Maret 2009, edisi cetaknya bisa dilihat pada halaman berikut (klik disini)


Oleh : Prakoso Bhairawa Putera S
Civitas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Hadirnya orang muda dalam perjalanan bangsa ini, kembali mengemuka ditengah hiruk pikuk suhu perpolitikan dan eksistensi tatanan kehidupan negara. Orang muda yang kemudian diharapkan memunculkan pemimpin muda, bisa dipahami sebagai semangat dan bisa pula usia. Walaupun sebenarnya parameter tentang usia muda pun masih menjadi perdebatan.

SUHU
politik di negeri ini pun semakin memanas. Jika boleh mengatakan bahwa sejak Republik Indonesia berproses sebagai suatu bangsa. Sejak awal keberadaan bangsa ini, orang-orang muda memberi andil yang besar.

Organisasi-organisasi kedaerahan yang dibentuk dan digagas tak lain oleh para pemuda, hingga puncaknya melahirkan Sumpah Pemuda. Tetapi setelah tahun berganti masih adakah semangat yang begitu optimis untuk memerdekaan diri dari “kungkungan penjajah”.

Jika merujuk pada konteks kekinian, tentulah cara pandang atau wawasan kita (baca; orang muda) sangat berbeda ketika cita-cita luhur itu dikumandangkan. Dengan keinginan yang kuat dan keyakinan untuk merdeka, maka pilar persatuan dan kesatuan bangsa begitu kokoh.

Kepentingan pun diarahkan untuk memerdekakan diri dan pengakuan di mata dunia sebagai suatu negara berdaulat, yang muncul kemudian nasionalisme luhur dengan ekspresi cinta negara yang tumbuh secara natural atau pun ditumbuhkan melalui proses persamaan nasib ke dalam sanubari warga negara.

Rasa itupun tumbuh mengatasi kepentingan primordial, seperti etnis, ras atau agama. Sehingga membawa pada antikolonialisme, penjajahan pihak asing dan sejenisnya.

Ironis, itulah wacana yang kemudian mengemuka dihadapan, ditengah pemerintah mempersiapkan kebangkitan Indonesia sebagai sebuah negara. Dunia mengalami goncangan dari berbagai sektor dan Indonesia dihadapkan untuk mampu menjalani. Dalam situasi seperti ini, masih adakah patriotisme?

Patriotisme Kekinian

Bangunan bernama “patriotisme” masih harus ditegakkan dengan harapan karena asa dan impian seperti itu bersifat gratis dan bisa dimiliki oleh semua orang dalam jumlah sebanyak mungkin. Kalau sekadar bicara harapan dan impian, tentu semua orang ingin makmur, dan hidup enak.

Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri dalam realita berapa persen yang bisa mewujudkan impian dengan semangat tersebut. Masa depan, hari esok selalu ada seperti matahari yang tak pernah lelah terbit di barat, begitu juga dengan optimisme. Oleh karenanya harus dibangun dengan membumi dan dijawab oleh kualitas diri untuk menggunakan masa sekarang ini.

Hadirnya orang muda dalam perjalanan bangsa ini, kembali mengemuka ditengah hiruk pikuk suhu perpolitikan dan eksistensi tatanan kehidupan negara. Orang muda yang kemudian diharapkan memunculkan pemimpin muda, bisa dipahami sebagai semangat dan bisa pula usia.

Walaupun sebenarnya parameter tentang usia muda pun masih menjadi perdebatan. Gagasan ini tidak muncul begitu saja, tidak menutup kemungkinan bangsa ini membutuhkan semangat muda dan kepemimpinan baru yang lebih progresif.

Keyakinan ini seakan diamini oleh masyarakat luas. Contoh paling dekat dengan kita adalah hadirnya kepimimpinan muda hasil dari pemilihan kepala daerah secara langsung di Sulawesi Selatan dan Jawa Barat.

Sadar atau tidak kebangkitan pemimpin muda muncul karena sikap apatis akut dari kebanyakan tokoh muda terhadap stagnasi reformasi. Hal ini bisa jadi menjadi bentuk ‘perlawanan’ terhadapa dominasi (maaf) ‘kaum tua’ akan kekuasaan. Namun, patut disadari bahwa persoalannya tidak sesederhana yang dibayangkan, bahwa dengan beralihnya kepemimpinan ke tangan “kaum muda” otomatis akumulasi persoalan menjadi selesai.

Sekadar melihat catatan di masa silam, elit-elit yang berkuasa saat ini adalah tokoh muda di awal kekuasaanya. Suksesi orang muda melakukan perubahan itu akan terjawab manakala mereka sudah berada pada position maker dalam alur kekuasaan. Oleh karena itu, maka ada dua modal dasar yang dibutuhkan untuk membangun patriotisme kebangkitan kepemimpinan muda, yaitu keyakinan dan kemampuan mengendalikan diri.

Keyakinan sangat dibutuhkan saat mendesain masa depan. Hal ini berkaitan dengan niat tulus yang bermula dari lubuk hati setiap manusia. Keyakinan ini dimulai dengan keyakinan faktual sebagai alasan mengapa memiliki optimisme.

Dengan kata lain, jika kita memahami tahapan persoalan dari konsepnya yang paling utuh, berarti sudah memahami bagaimana persoalan tersebut akan berakhir. Memiliki alasan-alasan yang dibutuhkan untuk mencapai suatu hasil sehingga merasa layak untuk yakin sangat diperlukan.

Perlunya alasan yang kuat, mengapa pantas memiliki keyakinan tentang suatu hal. Batas untuk yakin dan ragu-ragu terkadang lebih sering berupa batas kemampuan untuk mengetahui bagaimana sesuatu terjadi (how something happens).

Para pakar manajemen menyebutnya sebagai kemampuan untuk memahami hasil akhir. Selain keyakinan faktual, keyakinan mental juga diperlukan.

Hal ini akan menjadi senjata ampuh ketika sedang menghadapi permasalahan start-up. Seluruh dalil kehidupan menunjukkan “life is game”, meskipun tidak berarti main-main atau sandiwara belaka. Setiap orang adalah pemain utama sekaligus penonton.

Ketika tidak memiliki keyakinan mental maka sangat bisa dipastikan karakter yang kita presentasikan di atas panggung kehidupan ini sulit menciptakan kepuasan internal dan tidak memiliki daya tarik untuk merebut apresiasi penonton.

Keyakinan bahwa didalam diri memiliki kemampuan meraih sukses melahirkan pribadi yang puas terhadap kehidupan dan oleh karena itu energi yang dimunculkan pun bersifat positif.

Kekuatan ini yang kemudian melindungi keyakinan dari ancaman ‘keragu-raguan’, rasa tidak berdaya, pesimisme, rasa khawatir yang berlebihan terhadap tahayul “jangan-jangan” dan pada akhirnya menyebabkan keluar dari garis fokus hidup.

Kemampuan mengendalikan diri atau yang lebih dikenal dengan kontrol diri merupakan modal kedua dalam menegakkan bangunan ‘bangsa’. Kemampuan ini erat kaitannya dengan bagaimana seseorang menggunakan pilihan hidup. Disadari atau pun tidak, selama hidup selalu disodorkan sejumlah pilihan. Dimana setiap pilihan mengandung konsekuensi dan seluruhnya dirilah yang menentukan.

Semangat juang yang melebur dalam bentuk kebangkitan pemimpinan muda sebenarnya bukan lagi wacana berulang, tetapi keberanian untuk melangkah dan kembali ambil bagian dalam perjalanan bangsa ini.(*).

0 komentar:

Poskan Komentar

 
 
 

BERGABUNG DENGAN BLOG INI

PENJAGA LAMAN

Foto Saya
prakoso bhairawa
Lahir di Tanjung Pandan (pulau Belitung), 11 Mei 1984. Ia memiliki nama pena KOKO P. BHAIRAWA. Duta Bahasa tingkat Nasional (2006) ini kerap menulis di berbagai media cetak Nasional dan Daerah. Buku-bukunya: Megat Merai Kandis (2005), La Runduma (2005), Ode Kampung (2006), Uda Ganteng No 13 (2006), Menggapai Cahaya (2006), Aisyah di Balik Tirai Jendela (2006), Teen World: Ortu Kenapa Sih? (2006). Asal Mula Bukit Batu Bekuray (2007), Medan Puisi (2007), 142 Penyair Menuju Bulan (2007), Ronas dan Telur Emas (2008), Tanah Pilih (2008), Putri Bunga Melur (2008), Aku Lelah Menjadi Cantik (2009), Pedas Lada Pasir Kuarsa (2009), Cerita Rakyat dari Palembang (2009), Wajah Deportan (2009), Pendekar Bujang Senaya (2010), Ayo Ngeblog: Cara Praktis jadi Blogger (2010), dan Membaca dan Memahami Cerpen (2010). Tahun 2009 menjadi Nominator Penulis Muda Berbakat – Khatulistiwa Literary Award. Saat ini tercatat sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Beralamat di koko_p_bhairawa@yahoo.co.id, atau di prak001@lipi.go.id
Lihat profil lengkapku