SUDAH PINDAH RUMAH -> ADA KOKO

Sensasi Jelajah di Titik Referensi Jawa

Rabu, 25 Agustus 2010

AIR laut sedang surut saat menyinggahi Cibom yang jaraknya tidak lebih dari tiga puluh menit perjalanan dengan menggunakan kapal dari Pulau Peucang. Kapal pun harus jangkar lebih ke tengah dan tak bisa merapat. Tak berbeda dengan Peucang, Cibom langsung menyambut dengan hamparan pasir putihnya dan karang-karang yang terlihat begitu memesona.

Ada sejarah mengagumkan tertulis di kawasan inti dari Taman Nasional Ujung Kulon ini. Tahun 1808 silam, Gubernur Jenderal Hindia Belanda pernah merencanakan pembangunan pelabuhan laut di daerah Cibom. Sultan Banten yang pada saat itu berat hati menfasilitasi dengan penyediaan pekerja. Namun, pembangunan ini gagal karena para kerja pribumi dan Belanda banyak yang menderita sakit bahkan meninggal dunia.Penyakit tersebut kemudian dikenal dengan istilah malaria yang pada saat itu disebut sebagai "uap beracun yang berasal dari lahan kerja baru". Padahal, wabah tersebut disebabkan nyamuk anopheles betina.

Penasaran untuk melihat lebih dekat sisa-sia bangunan peninggalan Belanda dan Tanjung Layar yang dikenal sebagai titik referensi Jawa, tidak ada cara lain mau tidak mau tracking di sisi dalam Cibom menjadi pilihan. Perjalanan normal menuju Tanjung Layar bisa 60 hingga 70 menit. Namun, jalan setapak yang biasa dilalui medannya cukup berat kali ini, lantaran hujan semalam membuatnya lebih licin dan dipenuhi lumpur. Hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Jawa Barat ini benar-benar membuat decak kagum, aroma asri hijau dan sejuk menjadikanya habitat ideal bagi badak Sunda (Rhinoceros sondaicus).

Jalan setapak yang sebetulnya hanya sejauh 1,66 kilometer terasa begitu panjang dan tanpa ujung, sementara itu rombongan pun mulai terbagi menjadi beberapa. Sesekali terlihat di antara kami ada yang terjatuh, tetapi hanya cedera ringan. Belukar dan pepohonan yang tumbang ternyata menjadikan objek foto beberapa rekan. Tak ayal, gelak tawa pun menjadi pengusir lelahnya perjalanan. Kebosanan mulai terobati ketika pohon kiara pencekik (Ficus sp) melintang di tengah jalan. Pohon kiara seperti pintu gerbang menuju lokasi yang dituju. Hal ini karena lubang besar di pohon tersebut menyerupai pintu masuk dengan hiasan akar-akar yang menjuntai hingga ke tanah.

Akhirnya tujuan mulai terlihat, dari kejauhan lokasi memang tidak terlihat karena rimbunnya pepohonan. Akan tetapi, setelah melewati sisa-sisa bangunan penjara tua milik Belanda, terhampar hijau rerumputan dilindungi karang-karang tinggi. "Subhanallah!" Inilah titik referensi di ujung barat Pulau Jawa. Tak terbayang jika lokasi ini dulunya adalah tempat penahanan para bajak laut.

**

Tanjung Layar merupakan padang hijau dengan dilindungi karang setinggi rumah tingkat tiga. Padang ini pun tampaknya menjadi tempat bermain kawanan banteng Sunda (Bos sondaicus). Terlihat dari banyaknya kotoran banteng Sunda tersebar. Setelah cukup melepas kepenatan dan mengabadikan keindahan Tanjung Layar, saatnya untuk kembali ke Pulau Peucang.

Tracking pulang ke titik penjemputan di Cibom harus melalui pesisir yang dipenuhi karang. Pilihan ini diambil, mengingat semakin sore dan hari menjelang gelap. Jelajah di sepanjang pesisir ternyata tak kalah menariknya, tetapi harus tetap berhati-hati jangan sampai salah langkah ataupun terpeleset. Permukaan karang yang cukup tajam dan licin sempat membuat penulis terjatuh hingga harus mendapat pertolongan pertama.

Kawasan Cibom dengan Tanjung Layarnya benar-benar menarik untuk dikunjungi, sebagai wilayah konservasi dengan keindahan alamnya. Akan tetapi, perlu diketahui juga untuk pengunjung yang hendak menyinggahi Cibom, gunakan antinyamuk terlebih dahulu buat berjaga-jaga dari serangan Anopheles betina, siapkan juga kotak P3K berikut perlengkapan yang diperlukan.

Hal semacam ini menjadikan kita lebih terjaga. Nah, penasaran untuk melihat titik di ujung barat Pulau Jawa" Cibom patut disinggahi. (Prakoso Bhairawa Putera, "blogger" dan peminat fotografi wisata) ***

Publikasi PIKIRAN RAKYAT, edisi edisi Sabtu - 21 Agustus 2010

0 komentar:

Poskan Komentar

 
 
 

BERGABUNG DENGAN BLOG INI

PENJAGA LAMAN

Foto Saya
prakoso bhairawa
Lahir di Tanjung Pandan (pulau Belitung), 11 Mei 1984. Ia memiliki nama pena KOKO P. BHAIRAWA. Duta Bahasa tingkat Nasional (2006) ini kerap menulis di berbagai media cetak Nasional dan Daerah. Buku-bukunya: Megat Merai Kandis (2005), La Runduma (2005), Ode Kampung (2006), Uda Ganteng No 13 (2006), Menggapai Cahaya (2006), Aisyah di Balik Tirai Jendela (2006), Teen World: Ortu Kenapa Sih? (2006). Asal Mula Bukit Batu Bekuray (2007), Medan Puisi (2007), 142 Penyair Menuju Bulan (2007), Ronas dan Telur Emas (2008), Tanah Pilih (2008), Putri Bunga Melur (2008), Aku Lelah Menjadi Cantik (2009), Pedas Lada Pasir Kuarsa (2009), Cerita Rakyat dari Palembang (2009), Wajah Deportan (2009), Pendekar Bujang Senaya (2010), Ayo Ngeblog: Cara Praktis jadi Blogger (2010), dan Membaca dan Memahami Cerpen (2010). Tahun 2009 menjadi Nominator Penulis Muda Berbakat – Khatulistiwa Literary Award. Saat ini tercatat sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Beralamat di koko_p_bhairawa@yahoo.co.id, atau di prak001@lipi.go.id
Lihat profil lengkapku