SUDAH PINDAH RUMAH -> ADA KOKO

Pendidikan Karakter

Senin, 05 Juli 2010


Akhir-akhir ini pendidikan karakter begitu gencar menjadi sorotan berbagai kalangan di negeri ini. Bahkan, Mohammad Nuh secara tegas mengatakan, pendidikan karakter sangat penting untuk bangsa.

Pendidikan karakter bukan merupakan hal baru. F.W. Foerster (1869-1966) menjadi penggagas awal pendidikan karakter yang menekankan pada dimensi etis spiritual dalam proses pembentukan pribadi. Sejak awal, pendidikan bertujuan untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial subjek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter inilah, kualitas seorang pribadi diukur (Koesoema, 2009).

Penguatan pendidikan karakter menjadi semakin penting di tengah isu-isu yang saat ini berkembang, mulai dari penurunan degradasi moral anak bangsa, budaya instan atau jalan pintas yang begitu digandrungi untuk cepat berhasil, sampai pada bahaya budaya asing yang kurang "pas" untuk generasi muda dan tentunya serbuan bahaya obat-obatan terlarang.

Fenomena semacam ini sungguh ironis jika hanya duduk dan diam menyaksikan tunas muda bangsa ini terlena dalam krisis karakter. Padahal, bangkitnya dunia pendidikan yang telah dirintis Ki Hadjar Dewantara sungguh sangat berarti untuk dicermati dengan saksama. Senada kiranya dengan Nurokhim (2009) bahwa perjuangan kebangkitan pendidikan dengan semangat jiwa nasionalisme dan wawasan kebangsaan adalah modal dasar penanaman karakter dalam pendidikan Indonesia saat itu. Bahkan, rela berkorban demi nusa dan bangsa menjadi alasan untuk tidak mudah dipandang sebelah mata oleh kaum penjajah.

Pendidikan karakter bukan hanya slogan yang datang pada bulan pendidikan Mei-Juni setiap tahunnya lalu pergi begitu saja karena wacana ataupun isu-isu lain timbul. Pendidikan karakter pun bukan hanya tanggung jawab pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan Nasional hingga jajaran di tingkat terkecil sekalipun. Pendidikan karakter hendaklah dipandang sebagai sebuah sistem yang menjadi satu kesatuan dalam upaya peningkatan kualitas generasi bangsa yang benar dan tepat dalam menjalankan fungsi pelaksana ataupun pembaruan yang sejalan dengan cita-cita maupun nilai-nilai luhur Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila. Benar dan tepat merupakan kata kunci, benar dalam pengertian sesuai dengan sebagaimana adanya (seharusnya), dan tepat dalam pengertian cocok ataupun "pas" dengan tatanan nilai yang dipegang teguh oleh bangsa. Karakter menunjukkan jati diri. Jati diri menunjukkan identitas. Sudah selayaknya identitas bangsa dibangun di atas fondasi pendidikan yang lebih kuat dengan pendidikan karakter.

Sebagai sistem, pendidikan karakter harus melibatkan semua pihak. Kesatuan terkecil dan awal dalam pembentukan identitas tunas bangsa di tingkat keluarga haruslah benar-benar diperhatikan secara sadar oleh orang tua dan elemen keluarga lainnya. Penanaman nilai-nilai dasar yang kuat terletak pada level ini. Selanjutnya tugas institusi sekolah dan lingkungan sekolah serta masyarakat dalam menempa, melatih, dan menguatkan karakter dengan nilai-nilai ilmu pengetahuan, jasmani, dan rohani.

Sekolah memberikan penguatan dengan pembelajaran pengetahuan berikut penanaman moral, nilai rasa, dan pekerti luhur. Penghargaan ataupun sanksi harus tetap diberikan. Pemberian penghargaan kepada yang berprestasi menjadi bentuk penyemangat dan motivator untuk menjadi lebih baik. Sanksi kepada yang melanggar menjadikan tindakan untuk mencegah berlakunya nilai-nilai buruk ke tingkat lebih tinggi. Pada tingkat sekolah/institusi pendidikan implementasi character base education dalam setiap mata pelajaran harus terus diberikan dengan porsi yang semakin meningkat. Para pendidik menjadi kunci untuk mencari formula pengajaran dan pembelajaran yang patut kepada anak/peserta didiknya. Inovasi pengajaran dan pendidikan sangat dibutuhkan pada bagian ini. Pengalaman ditambah dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bisa menjadi ramuan yang baik dalam menghasilkan inovasi pendidikan karakter.

Pendidikan di masyarakat tidak kalah penting. Wadah ini sangat menentukan dan berpengaruh terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakatlah menjadi penentu penanaman nilai dan rasa yang diperoleh di bangku pendidikan dan keluarga.

Rajutan yang selama ini tidak tersambung secara baik dari setiap subsistem tersebut sudah selayaknya dirajut kembali. Hubungan dan educational networks yang baik dan terbina secara berkelanjutan, berproses secara bertahap adalah penentu keberhasilan sistem. ***

Oleh Prakoso Bhairawa Putera, peneliti muda kebijakan dan perkembangan iptek Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Publikasi di PIKIRAN RAKYAT, 03 Juli 2010

0 komentar:

Poskan Komentar

 
 
 

BERGABUNG DENGAN BLOG INI

PENJAGA LAMAN

Foto Saya
prakoso bhairawa
Lahir di Tanjung Pandan (pulau Belitung), 11 Mei 1984. Ia memiliki nama pena KOKO P. BHAIRAWA. Duta Bahasa tingkat Nasional (2006) ini kerap menulis di berbagai media cetak Nasional dan Daerah. Buku-bukunya: Megat Merai Kandis (2005), La Runduma (2005), Ode Kampung (2006), Uda Ganteng No 13 (2006), Menggapai Cahaya (2006), Aisyah di Balik Tirai Jendela (2006), Teen World: Ortu Kenapa Sih? (2006). Asal Mula Bukit Batu Bekuray (2007), Medan Puisi (2007), 142 Penyair Menuju Bulan (2007), Ronas dan Telur Emas (2008), Tanah Pilih (2008), Putri Bunga Melur (2008), Aku Lelah Menjadi Cantik (2009), Pedas Lada Pasir Kuarsa (2009), Cerita Rakyat dari Palembang (2009), Wajah Deportan (2009), Pendekar Bujang Senaya (2010), Ayo Ngeblog: Cara Praktis jadi Blogger (2010), dan Membaca dan Memahami Cerpen (2010). Tahun 2009 menjadi Nominator Penulis Muda Berbakat – Khatulistiwa Literary Award. Saat ini tercatat sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Beralamat di koko_p_bhairawa@yahoo.co.id, atau di prak001@lipi.go.id
Lihat profil lengkapku