SUDAH PINDAH RUMAH -> ADA KOKO

Pesona Keindahan Pantai Pangandaran

Minggu, 20 Juni 2010

"KAWASAN ini begitu cepat pulih!" begitulah gumam dalam hati ketika pertama kali menginjakkan kaki di kawasan wisata Pangandaran (Jawa Barat) akhir minggu, di bulan Mei lalu. Geliat perekonomian dan kehidupan sosial yang didukung sektor pariwisata telah benar-benar membangkitkan Pangandaran. Kondisi saat ini jauh dari kesan wilayah pascatsunami 17 Juli 2006 silam.

Perjalanan wisata ke Pangandaran saat ini sangatlah mudah dijangkau karena telah banyak agen perjalanan ataupun komunitas pengelana yang menyelenggarakan wisata perjalanan ke Pangandaran dengan harga yang relatif murah. Pilihan semacam ini sangat cocok untuk mengisi liburan akhir pekan saya. Setelah menempuh perjalanan 8 jam Jakarta–Pangandaran, akhirnya di Sabtu pagi saya tiba dengan disambut sapuan awan hitam selepas hujan pagi.

Selesai sarapan pagi, trip pertama dimulai dan tujuan Cukang Taneuh atau yang lebih dikenal dengan Green Canyon. Kawasan ini terletak di Desa Kertayasa (Cijulang), perjalanan ditempuh sejauh 31 kilometer dari Pangandaran. Aliran Sungai Cijulang langsung beriak ketika perahu tempel mulai menyusuri badan sungai. Tak perlu waktu lama, hamparan hijau bukit yang mengapit sisi kanan dan kini mulai terlihat.


Kali ini kami tidak sendiri, ada banyak pengunjung yang juga ikut menikmati pesona gua dengan stalaktit dan stalakmit. Alhasil, menunggu sekitar lima menit pun harus dilakukan. Sembari menunggu, tak urung kamera yang sedari tadi tersimpan rapi di dry bag menjadi teman setia untuk mengabadikan keindahan.

Green Canyon benar-benar menyajikan atraksi alam yang khas dan menantang. Berenang dan berpegangan dengan pinggiran bebatuan di antara dua bukit memacu adrenalin. Arus sungai yang mengasyikkan menambah sensasi tersendiri. Di sisi kanan dan kiri, air tanah jatuh layaknya hujan. Sementara itu, di mulut gua terdapat Air Terjun Palatar yang menjadikan objek ini luar biasa.

Setelah terpacu adrenalin, saatnya rehat sejenak dan menuju trip berikutnya. Tujuannya adalah Pantai Batu Karas. Objek wisata ini masih berada di Kecamatan Cijulang. Awan nan putih, langit biru, dan deburan ombok yang tenang menjadikan Pantai Batu Karas terasa nyaman dan hangat menyambut tiap pengunjung yang datang.

Sungguh menyenangkan menatap lepas hingga ke batas cakrawala. Benar-benar keindahan tiada tara. Suasana nyaman dengan angin sepoi-sepoi dan pemandangan mata yang disuguhi anak-anak bermain ombak di pantai nan landai, sungguh membuat saya betah berlama-lama di pantai ini. Namun, trip masih panjang. Masih ada objek wisata lain yang harus dikunjungi.

Trip berikutnya adalah Pantai Batu Hiu. Pesona lain disuguhi di pantai yang terletak di Desa Ciliang (Parigi). Jarak lokasi tidak lebih dari 14 kilometer dari selatan Pangandaran. Bukan hanya laut biru dan deburan ombak yang bisa kita lihat di sini, tetapi kita juga bisa mendatangi Konservasi Anak Penyu (tukik) yang letaknya 300 meter dari gerbang masuk pantai. Konservasi ini berada di bawah tanggung jawab Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Jawa, Kementerian Lingkungan Hidup. Namun, kedatangan kali ini tidak dapat melihat anak penyu, karena beberapa waktu yang lalu telah dilakukan pelepasan langsung ke habitatnya. Di konservasi yang tersisa hanya dua dari tiga bak (kolam) pemeliharaan yang berisi penyu-penyu hasil tangkapan masyarakat.

Pantai Batu Hiu punya cara lain untuk memanjakan pengunjung. Dari atas bukit kecil yang ditumbuhi pohon pandan wong, kita bisa menyaksikan Samudera Indonesia nan biru lengkap dengan deburan ombak yang bergulungan. Embusan angin lagi-lagi menggoda untuk berlama-lama. Bila menjuruskan pandangan ke sebelah timur, hamparan pantai terbentang hingga Pangandaran. Jalan-jalan untuk sekadar menikmati angin dan pemandangan dari atas bukit semakin terasa nyaman dengan disediakannya fasilitas pejalan kaki yang telah ditata secara apik. Bukan hanya itu, duduk santai di rerumputan atas bukit pun sepertinya cukup layak untuk dilakukan di Pantai Batu Hiu.

Minggu di Pangandaran

Seharian menikmati pesona alam di sisi lain Pangandaran, tidak menyulitkan saya untuk bangun pagi di hari Minggu. Justru setelah menyelesaikan kewajiban pagi, dengan kamera di tangan saya langsung menuju Pantai Pangandaran. Wow, ramai betul kala itu. Kita bisa menyaksikan aktivitas pagi masyarakat lokal yang berbaur dengan wisatawan di sepanjang bibir pantai. Mereka bermain ombak, berenang dengan papan seluncur, bermain bola, ataupun sekadar berjalan di atas pasir pantai dan berfoto.

Waktu terasa begitu cepat berputar hingga trip keempat sudah harus dijalankan. Trip kali ini sangatlah spesial karena bernuansa trekking dengan objek tujuannya Taman Wisata Alam Pangandaran (TWAP). TWAP terletak berimpitan dengan kawasan konservasi cagar alam Pangandaran. Kegiatan Penjelajahan hutan dan pantai dilakukan hingga ke gua alam serta melihat situs budaya Batu Kalde. Jalur menuju lokasi ditempuh melalui laut dengan perahu wisata yang memang banyak disewakan di pinggiran Pantai Pangandaran.

Sepanjang perjalanan menuju lokasi, hamparan pemandangan tersaji mulai dari karang kodok, batu layar, hingga bagan-bagan ikan nelayan. Perahu tempel sesekali bergoyang keras memecah ombak. Setiba di lokasi, mata langsung tertuju pada hamparan pasir putih nan eksotis.

Berjalan tidak seberapa jauh, mata kembali disajikan oleh hamparan rumput dengan bunga-bunga berwarna merah muda di antara kawanan rusa. Rusa-rusa di tempat ini sungguh bersahabat dengan pengunjung, hingga tak segan-segan salah satu rekan saya memberikan pisang. Rusa pun datang menghampiri. Pesona keindahan di selatan Jawa Barat ini layak disejajarkan dengan pesona destinasi lainnya di Indonesia. (Prakoso Bhairawa Putera)***

1 komentar:

Wisata Pangandaran mengatakan...

Pangandaran memang indah menawan sebagai tempat wisata populer di Jawa Barat, setelah menjadi Kabupaten Pangandaran semoga semakin maju dan tambah populer, menjadi wisata Kabupaten Pangandaran dengan banyak tempat wisatanya, dan dikembangkan tempat- tempat wisata baru yang akan menarik wisatawan untuk dikunjungi. Blogwalking ..dan salam kenal..

Poskan Komentar

 
 
 

BERGABUNG DENGAN BLOG INI

PENJAGA LAMAN

Foto Saya
prakoso bhairawa
Lahir di Tanjung Pandan (pulau Belitung), 11 Mei 1984. Ia memiliki nama pena KOKO P. BHAIRAWA. Duta Bahasa tingkat Nasional (2006) ini kerap menulis di berbagai media cetak Nasional dan Daerah. Buku-bukunya: Megat Merai Kandis (2005), La Runduma (2005), Ode Kampung (2006), Uda Ganteng No 13 (2006), Menggapai Cahaya (2006), Aisyah di Balik Tirai Jendela (2006), Teen World: Ortu Kenapa Sih? (2006). Asal Mula Bukit Batu Bekuray (2007), Medan Puisi (2007), 142 Penyair Menuju Bulan (2007), Ronas dan Telur Emas (2008), Tanah Pilih (2008), Putri Bunga Melur (2008), Aku Lelah Menjadi Cantik (2009), Pedas Lada Pasir Kuarsa (2009), Cerita Rakyat dari Palembang (2009), Wajah Deportan (2009), Pendekar Bujang Senaya (2010), Ayo Ngeblog: Cara Praktis jadi Blogger (2010), dan Membaca dan Memahami Cerpen (2010). Tahun 2009 menjadi Nominator Penulis Muda Berbakat – Khatulistiwa Literary Award. Saat ini tercatat sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Beralamat di koko_p_bhairawa@yahoo.co.id, atau di prak001@lipi.go.id
Lihat profil lengkapku