SUDAH PINDAH RUMAH -> ADA KOKO

Menumbuhkan Optimisme dalam Diri Anak Bangsa

Jumat, 11 September 2009

PERKEMBANGAN kehidupan mutakhir saat ini jelas sangat tidak menguntungkan, khususnya terkait dengan upaya perekatan sosial (social integration). Musuh bersama yang sekarang menantang di depan mata sesungguhnya ialah rintangan berupa sikap absolutisme yang akut. Yakni, sikap yang terus merangsang sebuah klaim kebenaran yang mutlak dan terus dipaksakan ke ruang publik sebagai kebenaran yang tunggal dan monolitik. Dalam berbagai varian kehidupan sosial, realita ini muncul sebagai penguasaan wacana publik di antara berbagai pertarungan nilai. Absolutisme dengan retorika yang menggebu-gebu, padahal sarat kosong makna, kemudian hadir seolah-olah telah menghipnotis masyarakat.

Namun ditengah kegaulauan bangsa, pada kehidupan sehari-hari masih bisa kita menemui orang-orang yang memiliki optimisme tinggi untuk meraih suatu prestasi tertentu dan cenderung berjalan diantara permasalahan yang ada dengan kelapa tegak. Tetapi, dibalik sikap optimisme tersebut tidak jarang kita juga menemukan bahwa orang tersebut cenderung tidak memiliki dasar atau landasan kuat untuk mendukung optimismenya yang terefleksi dalam bentuk minimnya persiapan dan rencana, ketekunan, keras keras, kemampuan yang dimiliki. Akibatnya ia tidak pernah berhasil mencapai prestasi yang tadinya sangat diyakini akan dapat dicapai. Bahkan banyak yang berakhir dengan kekecewaan dan frustrasi mendalam. Lalu muncul pertanyaan bagaimana menumbuh kembangkan optimisme pada diri kita sebagai anak bangsa.

Optimisme hendaklah tidak dibangun di atas harapan utopis karena asa dan impian seperti itu bersifat gratis dan bisa dimiliki oleh semua orang dalam jumlah sebanyak mungkin. Kalau sekedar bicara harapan dan impian, tentu semua orang ingin makmur, dan hidup enak. Namun dalam kenyataan berapa persen yang bisa mewujudkan impian tersebut. Masa depan selalu akan ada seperti matahari yang tak pernah lelah terbit di barat, begitu juga dengan optimisme. Oleh karenanya harus dibangun dengan alamiah (membumi)dan dijawab oleh kualitas diri anak bangsa untuk menggunakan masa sekarang ini. Bagaimana cara anak bangsa mengisi hari-hari di masa sekarang.

Menumbuh kembangkan optimisme dapat dilakukan oleh setiap individu anak bangsa, setidaknya ada dua modal dasar dibutuhkan, yaitu keyakinan, dan kontrol diri.

Keyakinan sangat dibutuhkan saat mendesain masa depan. Keyakinan faktual sebagai alasan mengapa kita memiliki optimisme yang kuat. Dengan kata lain, jika kita memahami tahapan persoalan dari konsepnya yang paling utuh, berarti sudah memahami bagaimana persoalan tersebut akan berakhir. Memiliki alasan-alasan yang dibutuhkan untuk mencapai suatu hasil sehingga anda merasa layak untuk yakin sangat diperlukan. Berilah diri anda alasan yang kuat, mengapa pantas memiliki keyakinan tentang suatu hal. Batas untuk yakin dan ragu-ragu terkadang lebih sering berupa batas kemampuan untuk mengetahui bagaimana sesuatu terjadi (how something happens). Para pakar manajemen menyebutnya sebagai kemampuan untuk memahami hasil akhir.

Selain keyakinan faktual, keyakinan mental juga diperlukan terutama ketika sedang menghadapi permasalahan start – up. Seluruh dalil kehidupan menunjukkan “life is game”, meskipun tidak berarti main-main atau sandiwara belaka. Tiap diri adalah pemain utama sekaligus penonton. Ketika tidak memiliki keyakinan mental maka sangat bisa dipastikan karakter yang kita presentasikan di atas panggung kehidupan ini sulit menciptakan kepuasan internal dan tidak memiliki daya tarik untuk merebut apresiasi penonton.

Keyakinan bahwa kita memiliki kemampuan meraih sukses melahirkan pribadi yang puas terhadap kehidupan dan oleh karena itu energi yang dihasilkan bersifat positif. Energi inilah yang akan melindungi keyakinan anda dari virus yang berupa keragu-raguan, rasa tidak berdaya, pesimisme tidak beralasan, rasa khawatir yang berlebihan terhadap tahayul ‘ jangan-jangan’ dan distraksi yang menyebabkan anda terseret dari garis fokus hidup.

Kontrol diri merupakan modal kedua dalam menumbuh kembangkan optimisme. Han ini erat kaitannya dengan bagaimana seseorang menggunakan pilihan hidup. Disadari atau pun tidak, selama hidup selalu disodorkan sejumlah pilihan. Mana yang akan dipilih, seluruhnya di tangan kita.

Ketika kontrol diri tidak lagi berada pada kesadaran bahwa realitas adalah hasil dari akumulasi pilihan maka optimisme mulai meninggalkan diri karena energi yang bekerja membentuk format hidup berupa energi negatif. Saat itulah tergoda untuk memilih keyakinan bahwa lebih besar tentangan ketimbang kemampuan; lebih banyak problem ketimbang solusi; hutang melebihi jumlah pemasukan; keterbatasan lebih berkuasa ketimbang keunggulan; dan semua yang dilakukan pantas dianggap kenihilan belaka.

Lingkungan memiliki energi, roh, atau power untuk membentuk diri meskipun akhirnya keputusan tetap di tangan diri masing-masing. Lingkungan bagaikan penasehat tanpa jabatan. Sayangnya, diri secara alami cenderung terbawa larut oleh lingkungan tanpa keputusan yang kuat untuk menciptakan seleksi. Akibatnya diri menjadi sosok yang diciptakan oleh lingkungan. Sehingga jadilah sosok yang biasa-biasa saja dan tidak pernah menempati wilayah posisi decision maker meskipun untuk persoalan sebagai the person.

Optimisme adalah kata kunci untum meraih esok. Dengan ada optimisme mempermudah bekerjasama sehingga menumbuhkan kebersamaan yang bermuara pada rasa persatuan dan kesatuan. ”Orang selalu mengimpikan sebuah kedamaian di mana setiap orang bebas hidup dengan damai dan mewujudkan cita-citanya. Baru belakangan ini kita mulai menyadari bahwa dengan kerjasama, kita mampu membangun dunia yang damai. Daripada kita bertengkar satu sama lain, lebih baik kita memerangi bahaya yang akan sama-sama kita hadapi, yaitu kekerasan, keserakahan, membongkar akar-akar pertikaian dan mencoba melaksanakan persamaan lebih besar dalam hubungan ekonomi, sosial dan budaya.” (Javier Perez de Cuellar).

Di dalam tugas yang memakan waktu dan menantang ini, mantan Sekjen PBB Javier Perez de Cuellar mengatakan bahwa kita harus membentengi diri dengan kepercayaan pada nilai-nilai keutamaan manusia akan cinta, kasih sayang, dan kebijaksanaan sebagai modal untuk memandang masa depan. Kesemua itu adalah muatan-muatan dalam optimisme.

Jika kita hubungkan dengan Indonesia, maka anak bangsa saat ini merupakan generasi yang akan mewujudkan paradigma baru pembangunan mendatang dengan tetap terlebih dahulu perlu membangunkan kembali optimisme dalam diri, lalu merujuk persatuan dan kesatuan. Ini dapat dicapai melalui peningkatan komitmen kebangsaan di dalam sanubari masing-masing agar nasionalisme Indonesia baru akan berpijar dalam bentuk gagasan dan pandangan bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Tentunya matahari akan selalu terbit di barat, lalu kenapa kita tidak mampu untuk menumbuh kembangkan optimisme dalam diri. Mulailah dari diri, sekarang dan saat ini juga. (Prakoso Bhairawa Putera. S) ***

0 komentar:

Poskan Komentar

 
 
 

BERGABUNG DENGAN BLOG INI

PENJAGA LAMAN

Foto Saya
prakoso bhairawa
Lahir di Tanjung Pandan (pulau Belitung), 11 Mei 1984. Ia memiliki nama pena KOKO P. BHAIRAWA. Duta Bahasa tingkat Nasional (2006) ini kerap menulis di berbagai media cetak Nasional dan Daerah. Buku-bukunya: Megat Merai Kandis (2005), La Runduma (2005), Ode Kampung (2006), Uda Ganteng No 13 (2006), Menggapai Cahaya (2006), Aisyah di Balik Tirai Jendela (2006), Teen World: Ortu Kenapa Sih? (2006). Asal Mula Bukit Batu Bekuray (2007), Medan Puisi (2007), 142 Penyair Menuju Bulan (2007), Ronas dan Telur Emas (2008), Tanah Pilih (2008), Putri Bunga Melur (2008), Aku Lelah Menjadi Cantik (2009), Pedas Lada Pasir Kuarsa (2009), Cerita Rakyat dari Palembang (2009), Wajah Deportan (2009), Pendekar Bujang Senaya (2010), Ayo Ngeblog: Cara Praktis jadi Blogger (2010), dan Membaca dan Memahami Cerpen (2010). Tahun 2009 menjadi Nominator Penulis Muda Berbakat – Khatulistiwa Literary Award. Saat ini tercatat sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Beralamat di koko_p_bhairawa@yahoo.co.id, atau di prak001@lipi.go.id
Lihat profil lengkapku