SUDAH PINDAH RUMAH -> ADA KOKO

SMS dan Komunikasi Publik

Rabu, 27 Januari 2010

: Melihat Lebih dekat Terobosan XL Axiata Menciptaan Komunikasi Publik

”BBM terpaksa dinaikan, agar subsudi dapat dialihkan dari orang kaya kepada rakyat miskin. Bantu awasi SUBSUDI TUNAI kepada rakyat miskin. Terima Kasih”. Begitulah bunyi pesan singkat berupa short message service (SMS) yang dikirimkan Departemen Komunikasi dan Informasi pada suatu sore sehari setelah pemberlakukan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) 2 tahun silam, dan pesan singkat itu mampir juga di ponsel penulis.

Ternyata kecanggihan teknologi komunikasipun disadari oleh pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai salah satu alternatif media sosialisasi yang cukup efektif mengingat sistem melalui pesan singkat hampir bisa dipastikan diterima oleh setiap warga. Sebenarnya bila dilihat sejak pertama kali satelit komunikasi mengorbit, dunia serentak bersorak bahwa saat itulah kita telah memasuki era komunikasi global. Dimana dunia kini tak lagi berjarak Namun demikian, kita tak boleh melupakan sejarah. Peletak fondasi pertama komunikasi jarak jauh adalah Alexander Graham Bell dengan ditemukannya telepon pada tahun 1875. Dua tahun sesudah penemuan itu, Bell mendirikan perusahaan yang disebut sebagai AT&T WorldNet Service dan kini termasuk perusahaan bisnis terbesar di dunia. Di Amerika sendiri memiliki beberapa perusahaan pesaing, di antaranya: AOL (American Online), Prodigy Internet.


Terlepas dari itu semua dalam satu dasawarsa terakhir, perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi mengalami akselerasi yang luar biasa. Salah satu anak produk teknologi tersebut ialah telepon selular (ponsel), yang saat ini telah menjadi sebuah hal yang amat biasa keberadaannya di tengah masyarakat. Percepatan dinamika aktivitas dalam masyarakat, mampu menempatkan teknologi informasi ini pada posisi penting dan strategis. Tuntutan zaman juga mendorong terjadinya revolusi teknologi informasi.

Memanfaatkan SMS

Pada akhirnya hadirlah berbagai macam ponsel dengan kecanggihan demi kecanggihan, yang semuanya dapatlah dilihat dari fitur-fitur yang ditawarkan. Namun, selalu ada fitur standar. Dalam hal ini, fitur ‘primitif’ ponsel berupa Short Messaging Service (SMS). Kehadiran fitur ini sebenarnya menarik untuk dicermati. SMS sudah menjadi bagian pasti dari kehidupan sehari-hari para pengguna ponsel dibandingkan dengan fitur yang lain.

Pada dasarnya, SMS menyerupai konsep konstruksi virtual. Dimana kehadiran SMS mampu melanggar konsep masyarakat dalam sosiologi yang berbasiskan wilayah geografik (teritorial). Selain itu, pola hubungan sesama pengguna SMS tidak mensyaratkan adanya interaksi langsung antar mereka, sehingga terdapat proses yang kurang sempurna dalam interaksi sosiologis. Pada titik inilah, menurut Kahardityo – muncullah diskursus baru dalam wacana sosiologi yang menyangkut ruang virtual, yaitu bahwa masyarakat mengalami transformasi interaksi yang mengubah sebagian perilaku berinteraksi yang selama ini sudah eksis dalam dunia riil.

Pola interaksi yang sebelumnya mengharuskan bertemu tatap muka dengan seseorang, tergantikan sudah melalui komunikasi via gelombang, mesin, atau kabel. Disanalah terjadi proses munculnya simbol-simbol baru yang beragam makna, menggeser esksistensi pola interaksi sebelumnya. Bentuk-bentuk komunikasi baru menjadi sangat tergantung dengan wahana teknologinya. Dalam hal ini, SMS berbasis komunikasi teks dan pencitraan yang di bangun dari rangkaian karakter-karakter huruf dan atau tanda baca tulis tertentu.

Pada SMS, keformalan menjadi bergeser menuju ketakformalan. Hal ini mengingat keterbatasan karakter yang diperbolehkan pada suatu ponsel, sehingga aspek-aspek formal yang cenderung lama dan penuh basa-basi menjadi luntur. Unsur-unsur yang merujuk pada adanya stratifikasi sosial mencair menjadi lebih egaliter. Di lain sisi, SMS juga memperlemah unsur dramaturgi dalam pola interaksi antar individu. Kendati demikian, kesederhanaannya itulah yang membuatnya menjadi amat efektif. Dalam konteks ini, SMS menunjukkan kemiripannya kembali dengan beberapa wahana lain dalam ruang virtual.

Sesungguhnya, gejala pengguna SMS, relatif mirip dengan profil pengguna medium dan jenis teknologi komunikasi yang lain untuk beberapa hal tertentu. Pada penelitian yang telah dilakukan oleh Kahardityo (2001) dan Haryati (2004) tentang para chatter yang melakukan aktivitas chatting, kemudian Adi Onggoboyo (2004) tentang para blogger pada aktivitas blogging-nya, didapati kesamaan bahwa kecenderungan pengguna lebih bermotifkan, baik chatting dan blog, sebagai sebuah media hiburan dan cenderung mereka fungsikan untuk aktivitas membuat dan atau memperkuat hubungan kekeluargaan dan pertemanan. Dalam hal ini, di Indonesia, kecenderungan umum pengguna SMS tidaklah jauh berbeda dengan hasil tersebut.

Mengacu pada perspektif David McClelland, bahwa dengan demikian, kebanyakan masyarakat Indonesia memiliki need of affiliation yang tinggi. Akan tetapi, sifat sosial masyarakat tersebut, cenderung lebih banyak berada pada kawasan masayarakat statis. Artinya, kegunaan SMS dalam kesehariannya, jauh lebih banyak dalam rangka pemenuhan hasrat need of affiliation-nya dibandingkan dengan kerangka yang lain. Misalnya: SMS sekadar menanyakan kabar, curhat, atau menggosipkan yang tidak perlu. Maka, berbicara efektifitas SMS, pada konteks ini, SMS cenderung digunakan masyarakat statis untuk efektifitas penguatan pola-pola hubungan sosial dan kekeluargaan. SMS mereka cenderung kurang efektif pada hal-hal yang informatif, namun sebetulnya tidak perlu dan atau tidak penting.

Sementara, perspektif pada masyarakat dinamis, efektifitas SMS merujuk pada holistikasi yang sinergis antar ketiga kecenderungan perspektif McClelland, yaitu, relatif memiliki fungsi yang sama baik itu untuk need of affiliation, need of power, dan need of achievement. Dalam hal ini SMS menjadi amat maksimal digunakan oleh mereka, meski tidak jarang mereka lebih menggunakan ponselnya untuk berbincang langsung dengan orang lain.

Efektif dan Efisien

Kalau begitu, sesengguhnya dalam masyarakat kita telah terjadi cultural lag terhadap teknologi ponsel, yang mungkin juga terjadi dalam domain teknologi informasi yang lain. Kecenderungan umum yang selama ini terjadi, ialah bahwa akselerasi perkembangan teknologi berbanding lurus dengan masyarakat pengguna yang memenfaatkannya dengan tepat, sedangkan bagi masyarakat awam atau hanya sekadar pengguna ikut-ikutan, akselerasinya cenderung lebih lambat. Padahal, teknologi telekomunikasi dibuat dalam rangka meluluskan segala macam keperluan manusia dengan basis pemikiran globalisasi yang konstruktif. Dengan kata lain, pada konteks SMS, bahwa motivasi sebagian besar masyarakat Indonesia dalam pemanfaatan mesti terus diperbarui hingga bertambah dari sekadar fungsi hiburan dan hubungan kekeluargaan. Lebih umum, demikian juga terkait dengan penggunaan ponsel sebagai medium teknologi SMS, masyarakat mesti berpaling dari hal-hal yang tidak perlu (dengan alasan gengsi dan sebagainya) menuju hal-hal yang memang dibutuhkan saja, agar tidak terjerembab dengan pola konsumerisme. Dengan demikian, segala sesuatunya tidak hanya menjadi lebih efektif, namun juga lebih efisien.

Akan tetapi, secara psikologis, justru SMS memunculkan bentuk-bentuk positif tertentu. Bagi mereka yang cenderung introvert (pendiam/pemalu), SMS dapat dijadikan sebagai alat latih ekspresi diri kepada seseorang yang ingin dikenalnya lebih dekat. Tidak jarang, pada realitas sehari-hari, dalam tindakan permintaan maaf, pernyataan cinta, pengungkapan puisi indah, atau memuji, seseorang tidak cukup berani untuk mengungkapkannya secara verbal. Maka, peran SMS menjadi signifikan dalam pengungkapan hal-hal tersebut. Pola verbal ditransformasi melalui medium teks dalam ungkapan yang dapat menjadi lebih elegan.

Kemampuan ini pulalah yang kemudian mendorong Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut memanfaatkan SMS ini dengan tujuan menampung berbagai aspirasi dari rakyatnya. Langkah presiden tersebut kemudian diikuti oleh pemerintah daerah di berbagai tempat. Setidaknya, ini merupakan bentuk perhatian dan kedekatan dari pemimpin terhadap rakyatnya berbasis teknologi informasi.

Teknologi informasi memang mampu menembus ruang dan waktu. Dengan fasilitas SMS, pemimpin dan rakyatnya seolah tak berjarak lagi. SBY memilih SMS sebagai jembatan komunikasinya dengan publik. Publik pun antusias menggunakan pilihan komunikasi tersebut. Agar komunikasi lewat SMS menjadi terbuka, bukan sekadar komunikasi dua arah, beberapa media massa baik cetak, audio-visual maupun online kini mulai membuka ruang guna menampung SMS dari publik. Dengan demikian, maka terbentuklah ruang opini publik khusus lewat SMS.

Melihat maraknya penggunaan media SMS oleh kalangan pemerintah dan pihak terkait lainnya, merupakan peluang tersendiri bagi beberapa operator selular. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang besar, membuka para operator bersaing untuk menduduki posisi market leader.

Persaingan para operator tersebut makin terlihat ’gila-gilaan’ akhir-akhirnya ini, mulai dengan penggunaan tarif hemat yang diberlakukan sesama pengguna produk satu operator yang sama sampai dengan pemberian bonus yang begitu menggiurkan siapa saja yang akan membaca iklan-iklannya di media cetak.

Ber'SMS' Inovatif dari XL Axiata

Bila mengurai gebrakan dalam menghadirkan komunikasi publik, operator Excelcomindo Pratama yang kini berganti nama menjadi XL Axiata menjadi terdepan. Namun, pada kesempatan ini saya hanya akan menguraikan tiga terobosan memiliki kontribusi besar dalam perjalanan inovasi pesan singkat di tanah air.

Maret 2008, terobosan XL dengan menghadirkan XL SMS Group merupakan pencapaian luar biasa dimasa itu. Layanan ini memberikan kemudahan bagi pelanggan untuk melakukan pengiriman SMS kepada sekelompok pelanggan yang telah didefinisikan terlebih dahulu. Pelanggan yang sudah terdaftar dalam suatu komunitas dapat menjadi anggota dalam komunitas lainnya. Layanan ini terbuka bagi seluruh pelanggan XL, baik XL Xplor, XL bebas maupun XL Jempol.

Sebelum menggunakan layanan ini, terlebih dahulu pelanggan membentuk grup komunitas SMS. Pengguna layanan ini terdiri atas pelanggan pembentuk yang akan bertindak sebagai moderator atau pemilik grup dan pelanggan XL yang bertindak sebagai anggota. Selanjutnya XL akan memberikan nomor kode akses yang sesuai dengan nama grup yang diinginkan oleh moderator. Ketika pelanggan mengirim SMS ke sesama anggota grupnya, maka akan dikenakan SMS sebesar Rp 100.

Program inipun mendapat sambutan dari pelanggan, dalam hitungan kurang dari tiga minggu sejak diluncurkan tanggal 3 Maret 2008 tercatat lebih dari 3500 XL SMS Grup telah terbentuk (SWA, 27 Maret 2008).

Kiprah XL tidak hanya itu, dalam urusan menggalang dana bagi meringankan beban masyarakt juga dilakoni. Dalam catatan saya setidaknya XL pernah mengeluarkan terobosan SMS Infaq. Layanan telekomunikasi ini mendukung aktivitas seluruh pelanggan dalam menjalankan ibadah di bulan suci yang lalu. Program tersebut merupakan program berbagi untuk sesama di bulan yang berkah dengan SMS. Infaq yang dikenakan sebesar Rp 5000 dengan cara mengetik SMS INFAQ lalu mengirimkan 5000, atau untuk nominal infaq Rp 2000 dengan ketik INFAQ lalu mengirimkan SMS ke 2000. Hasil SMS Infaq tersebut disalurkan untuk anak yatim dan kaum dhuafa melalui Majelis Taklim XL (MTXL) bekerjasama dengan PKPU (Pos Keadilan Peduli Ummat). Penggalangan dana pun dilakukan XL terhadap peristiwa gempa Tasikmalaya dan Padang (September 2009) yang dikenal dengan layanan SMS Donasi.

Gagasan dan gebrakan dari operator yang sukses menaikan jumlah pelanggan disepanjang tahun 2009 lalu (pertumbuhan 21%), dengan capaian jumlah pelanggan 31,4 juta, dan jumlah pelanggan RGB (Revenue Generating Base) meningkat sebesar 49% menjadi 31,1 juta pelanggan menjadikan operator XL menghasilkan terobosan lain dari pada lain.

Awal tahun 2009 lalu, XL mengeluarkan fitur SMS terbaru sebagai layanan VAS (Value Added Service) berbasis SMS yang pertama di Indonesia. Memang saat ini baru XL yang mengembangkan layanan SMS inovatif di tanah air. Layanan tersebut dinamakan SMS Plus. SMS Plus adalah pengembangan dari layanan SMS dan terdiri dari beberapa layanan antara lain seperti Auto Reply, Auto Forward, Auto Copy, dan beberapa fitur lainnya.

Fitur-fitur yang dimiliki XL SMS Plus dapat dikategorikan dalam empat hal: pertama, SMS Auto Reply. Fitur ini memberikan kemudahan bagi pelanggan untuk membuat pesan khusus (customize) yang akan dibalasnya secara personal. Kedua, Auto Forward. Fasilitas ini mengkedepankan kemudahan bagi pelanggan untuk dapat meneruskan SMSnya ke nomor yang didaftarkan. Ketiga, Auto Copy – untuk yang satu ini pelanggan dapat mengcopy ke nomor yang didaftarkan. Terakhir, fitur Auto Blacklist. Fitur ini memberikan keleluasaan bagi pelanggan untuk menolak SMS yang dikirimkan oleh nomor ponsel tertentu yang didaftarkan.

Layanan XL SMS Plus berlaku baik bagi pelanggan XL Prabayar maupun XL Pascabayar. Pelanggan dapat menggunakan layanan pada beberapa kondisi seperti pada saat meeting, travelling, atau pada saat berada di luar area jangkauan jaringan XL sekalipun. Biasanya pada kondisi seperti ini pelanggan tidak dapat menerima SMS atau melakukan reply SMS, namun dengan layanan 'SMS Plus' masih memungkinkan pelanggan untuk me-reply, forward, atau copy SMS ke nomor ponsel lain.

Terobosan yang inovatif semacam inilah yang semakin menjadikan operator ini perlahan demi perlahan mampu berlari mengejar hingga mendahului pesaing lainnya. Catatan yang paling penting adalah menantikan inovasi XL terutama pada layanan SMS ataupun yang lainnya yang bisa langsung disinergikan dengan kebutuhan pemerintah. Semoga dengan terobosan inovatif bisa tumbuh sebagai alternatif yang menjadikan SMS sebagai media komunikasi publik antara pemerintah dan rakyatnya dengan kolaborasi XL.***


Prakoso Bhairawa Putera

*tulisan ini merupakan sumbangan pemikiran dalam Lomba Karya Tulis XL Award 2009

1 komentar:

Kartika mengatakan...

Nama : Kartika
Email : mrs.cow_kartika@yahoo.co.id
URL : http://kartikak0895.student.ipb.ac.id/akademik/

Isi Komentar :
Apa peran komunikasi publik yang diberikan selain melalui sms? Adakah komunikasi punlik lain yang digunakan?

Poskan Komentar

 
 
 

BERGABUNG DENGAN BLOG INI

PENJAGA LAMAN

Foto Saya
prakoso bhairawa
Lahir di Tanjung Pandan (pulau Belitung), 11 Mei 1984. Ia memiliki nama pena KOKO P. BHAIRAWA. Duta Bahasa tingkat Nasional (2006) ini kerap menulis di berbagai media cetak Nasional dan Daerah. Buku-bukunya: Megat Merai Kandis (2005), La Runduma (2005), Ode Kampung (2006), Uda Ganteng No 13 (2006), Menggapai Cahaya (2006), Aisyah di Balik Tirai Jendela (2006), Teen World: Ortu Kenapa Sih? (2006). Asal Mula Bukit Batu Bekuray (2007), Medan Puisi (2007), 142 Penyair Menuju Bulan (2007), Ronas dan Telur Emas (2008), Tanah Pilih (2008), Putri Bunga Melur (2008), Aku Lelah Menjadi Cantik (2009), Pedas Lada Pasir Kuarsa (2009), Cerita Rakyat dari Palembang (2009), Wajah Deportan (2009), Pendekar Bujang Senaya (2010), Ayo Ngeblog: Cara Praktis jadi Blogger (2010), dan Membaca dan Memahami Cerpen (2010). Tahun 2009 menjadi Nominator Penulis Muda Berbakat – Khatulistiwa Literary Award. Saat ini tercatat sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Beralamat di koko_p_bhairawa@yahoo.co.id, atau di prak001@lipi.go.id
Lihat profil lengkapku